Jumat, 29 Februari 2008

Tetap Termotivasi Walau banyak Kendala

“The ancestor of every action is a thought.”
— Ralph Waldo Emerson

Saya sebut diri saya penulis pemula sebab sejak berhenti bekerja dari perusahaan milik negara dan pernah menjadi redaksi majalah kantor 7 tahun yang lalu, otomatis saya tinggalkan dunia menulis. Berkat tulis-menulis saya menemukan kembali sesuatu yang pernah hilang, dan berkat menulis saya punya nuklir motivasi yang meledak pada saat dibutuhkan ketika menulis ( hmm meledaknya di kepala saya sendiri ).


Hidup ini penuh rintangan, sering kita dengar kalimat tersebut. Bukan hidup saja yang penuh rintangan, motivasi itu sendiri punya banyak rintangan. Jika boleh saya berpendapat bahwa ada beberapa rintangan yang perlu diwaspadai agar motivasi tidak padam yaitu; pertama usia, kedua orang terdekat atau keluarga, ketiga lingkungan dan keempat diri anda sendiri.

Pertama, faktor usia: pernah suatu hari saya chatting dengan seorang seniman, ia bertanya berapa umur saya; lalu saya katakan usia saya sudah 39 tahun lebih. Lalu ia berkata, “ wah Mbak, tahu tidak usia saya baru 28 tahun”. Saya tafsirkan ucapannya ketika itu sebagai tantangan dan agar saya sadar bahwa saya sudah tua dan ia masih muda. Kemudian, saya jawab “ Life is begin at forty, dan target saya di usia 40 nanti buku saya sudah terbit dan bestseller”.

Bisa saja anggapan seorang yang berusia 20-an menganggap usia 30-an sudah tua dan bisa saja anak usia belasan menanggap orang yang berusia 20-an sebagai orang yang lebih tua. So what?

Bicara soal usia dan soal motivasi memang ada korelasinya, pernah disebutkan dalam istilah HR (kepegawaian) ada tipe “dead horse” artinya SDM yang sudah menjelang usia pensiun dan latar belakang pendidikan rendah ( dulu jaman orde baru kantor-kantor pemerintah masih bisa merekrut pegawai tamatan setingkat SMP) dan kebijakan perusahaan ketika itu tidak akan pernah mengirim “dead horse “ untuk mengikuti training atau pelatihan dari perusahaan yang biasanya diadakan bekerjasama dengan lembaga pendidikan tinggi, misalnya MM UI dll. Bahkan ada seorang motivator beken; Jim Rohn menulis artikel judulnya "Dont send your Ducks to Eagle School”, ia beranggapan lebih baik merekrut pegawai baru yang sudah punya motivasi daripada memberi motivasi. Saya tidak sependapat dengannya, sebab semua manusia bisa diberi motivasi asal punya kesempatan dan diperlakukan "equal".


Jaman sekarang berbeda, kecenderungan sekarang justru orang yang lebih tua usianya yang lebih termotivasi untuk awet muda, untuk hidup lebih lama. Bisa dilihat sepintas produk-produk obat awet muda laris di pasaran dalam negeri, bahkan di mancanegara. Padahal kalau mau jujur obat awet muda sebetulnya datang dari dalam diri , salah satunya banyak saja senyum akan awet muda dan juga senyum merupakan sedekah. Mengkonsumsi minyak zaitun asli sesendok tiap hari menurut pakar kesehatan obat awet muda, minum teh juga obat awet muda.

Banyak contoh orang yang sudah gaek masih kuat: presiden negara yang menjajah tanah Palestina, baru saja dilantik beberapa hari yang lalu sudah sangat gaek. Pemimpin Cuba Fidel Castro, masih tetap hidup. Orang tertua di dunia pemecah record dunia bisa mencapai usia lebih dari 110 tahun. Di Amerika ada nenek gaek usia 90 tahun masih nyetir mobil. Jadi jumlah usia bukan alasan untuk tidak perlu motivasi.

Kedua, keluarga atau orang terdekat bisa menjadi rintangan. Saya mengalami sendiri, ketika awal Maret lalu mulai menulis sebuah naskah buku pertama. Suami complain, anak rewel dan bahkan anak bungsu sempat kena demam. Semangat menulis dan motivasi ingin jadi penulis (author) harus menghadapi komentar-komentar orang terdekat yang terkadang jika kita tidak kuat mental bisa goyah. Justru dengan kendala ini saya lebih terpacu agar membuktikan pada mereka bahwa saya mampu menjadi penulis dan bisa mentraktir makan keluarga hasil dari tulisan.

Ketiga, faktor lingkungan; waktu yang terbatas, faktor ekonomi antara lain kenaikan biaya hidup, situasi dan kondisi lingkungan yang tidak mendukung dalam hal ini bisa saja lingkungan baru terkena bencana alam, kondisi politik yang tidak stabil, ada perang, ada kerusuhan, dll. Akibat bencana tsunami dan gempa di Yogya, memberi inspirasi seniman untuk lebih kreatif dan mengadakan pentas menggalang dana bantuan bagi para korban. Banyak blogger asal Iraq muncul sejak pecah perang Iraq yang memberi info langsung bagaimana sebenarnya yang terjadi disana. Hal ini menunjukkan motivasi mereka tidak padam walau dalam kondisi sesulit apapun.

Keempat, diri anda sendiri; “ ahh enggak mood nulis hari ini atau saya lagi enggak mood nih pergi ke seminar, paling sama aja ikut seminar apa enggak nanti juga bisa baca makalahnya”. Itu salah satu contoh rintangan yang datang dari diri sendiri. Contoh lainnya bisa anda renungkan masing-masing dan jangan pernah redup motivasi dalam diri anda.

Ada faktor lain yang saya abaikan yaitu faktor masyarakat, teman, atau kenalan bisa jadi penghambat motivasi, tetapi faktor ini bukan hal yang signifikan sebab dengan mudah kita dapat abaikan. Ingat pepatah Betawi “ Terserah deh ape katenye nyee, yang penting aye sek bodo’ teing”.

Selasa, 26 Februari 2008

“KETIKA PEREMPUAN INDONESIA HIDUP DALAM BUDAYA SUAMI ASING

DISKUSI BUKU :


Judul Buku :“LOve and ShOck :Perkawinan Antarbangsa”
Penulis : Hartati Nurwijaya
Tahun : 2007
Penerbit : Restu Agung, Jakarta
Tebal Buku : xv-211 hal






“KETIKA PEREMPUAN INDONESIA HIDUP DALAM
BUDAYA SUAMI ASING”








Oleh : Dra.Sri Setyawati,MA
(Antropologi-FISIP Unand)











Disampaikan dalam Seminar dan Diskusi Buku
Thema : “Culture Shock:Perkawinan Antar Bangsa”. Diadakan oleh Fakultas Sastra Universitas Andalas pada Selasa, 6 November 2007 di Gedung E Universitas Andalas Padang.


Prolog
“Ketika aku harus memutuskan pilihan untuk berangkat ke Belanda atau tetap tinggal di Padang? Satu sisi jika aku jadi berangkat ke Belanda, maka orang tuaku memutuskan untuk tidak menganggapku sebagai anaknya lagi. Bagai buah simalakama posisiku saat itu....spirit of love – ku pada seorang pria Belanda akhirnya menghadirkan sisi realita yang mestiku hadapi. Bagaimana aku nanti disana..? Bagaimana nanti kalau dia tidak mencintaiku,sementara aku melakukan suatu pengorbanan yang tidak ternilai dalam hidupku sebagai anak? Berbagai pikiran berkecamuk di kepalaku saat itu...,akhirnya aku melakukan shalat memohon petunjuk dari Yang Kuasa, keputusan apa yang mestiku ambil. Kuputuskan...tidak jadi berangkat ke Belanda dan saat itu perlahan-lahanku mulai menghilangkan rasa cinta yang hadir selama 3 tahun kami lalui..Pilihan hidup telah diambil dalam hidupku, mesti sulitku dijalani”

Kata pertama yang keluar tentang buku ini adalah : kenapa baru sekarang buku ini keluar ?. Berbagai pengalaman subyektif dari penulis, sangatlah tepat bagi orang-orang yang memiliki atau akan melakukan suatu keputusan untuk mencintai laki-laki diluar dari bangsanya sendiri.
Kekuatan cinta ataukah siap menghadapi berbagai persoalan atas perbedaan-perbedaan “living of tradition” yang selama ini digunakan. Tulisan yang bersifat “holictic” dipaparkan penulis dalam buku ini, mulai dari kiat-kiat sebelum menikah dengan orang asing ( bab I ), kemudian telaahan secara teoritis tentang cara-cara mengatasi “culture shock” dari perspektif antropologis ( bab 2 ) dan sampai akhirnya life history yang berkaitan dengan pengalaman 6 perempuan Indonesia yang bersuamikan pria asing (termasuk penulis sendiri).
Salah satu mendorong kehadiran buku ini hadir adalah : keberhasilan atas perjuangan perubahan UU Kewarganegaraan Republik Indonesia, tepatnya UU RI no: 12 Tahun 2006 Tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia., sehingga sekarang anak-anak dari hasil perkawinan antarbangsa mempunyai hak untuk mendapatkan dua kewarganegaraan ganda terbatas. Sehingga penulis melampirkan UU no:12 Tahun 2006 ini.
Ucapan terima kasih atas perjuangan teman-teman perempuan, LBH APIK (termasuk sahabat saya Ratna Batara Munti), www.aliansipelangi.org, Srikandi dan lain-lain. Perjuangan tidak hanya sampai disini saja,masih ada beberapa kelompok yang mengalami kemarginalan dalam negaranya sendiri.Kepastian hukum sangatlah dibutuhkan pada saat sekarang, sedangkan hukum sudah pasti masih saja dapat perlakuan yang sepantasnya diterima. Terutama para TKW yang bekerja di luar negeri dan berbagai persoalan yang ada di negeri kita ini.
Menurut Edward Said dalam bukunya “Orientalisme”,ada sejumlah image bagi pria asing terhadap gadis-gadis dari Timur, yang notabene menganut tradisi Ketimuran. Perempuan Timur itu sangat menarik dan eksoktik sehingga menjadi perempuan idaman bagi pria Barat. Perbedaan cara pandang antara Orientalis dan Western, masih saja menyelimuti dalam pikiran pria Barat.
Dikatakan bahwa perempuan Timur itu, sangat setia, menarik, bisa melayani suami dengan baik jika berumahtangga dan hal positif lainnya. Kecantikan ketimuran memberikan nilai lain bagi pria Western, dibandingkan dengan perempuan Western. Makanya sekarang para model yang memiliki wajah oriental, sangatlah mewarnai para model dunia. Sehingga cara pandang seperti ini masih melekat, begitupun dengan perempuan Timur terhadap laki-laki Western. Makanya penulis, memaparkan secara komparatif kelebihan dan kekurangan perkawinan antarbangsa ( hal 8 ).
Berkaitan juga dengan hal diatas, juga dijelaskan apa yang menyebabkan terjadinya kejutan budaya (hal 28). Mengutip pendapat Dr.Lelervo Oberg (antropolog pertama yang mengenalkan istilah ini pada tahun 1958), kejutan budaya (culture shock) sebagai bentuk kegelisahan seseorang akibat pindah ke lingkungan yang sama sekali baru baginya.
Persoalan seseorang dalam kemampuan proses adaptasi sebenarnya sangatlah menentukan dalam hal ini. Ada sejumlah proses yang dilalui seseorang ketika dia hadir dalam culture yang berbeda. Berbagai strategi-strategi adaptif yang mesti dia lakukan dalam rangka “survive” dalam menjalankan kehidupannya. Menurut psikologi, mengatakan setiap individu mempunyai “Defence mechanism”, yakni adanya kemampuan seseorang dalam mengatasi berbagai persoalan. Ada sejumlah cara yang bisa dilakukan seseorang individu, apabila dia memiliki masalah. Dalam teori ini sebenarnya, memberikan keyakinan kepada kita bahwa, setiap individu mempunyai kemampuan adaptasi terhadap lingkungannya yang baru. Dengan mengutip pepatah lama “lain padang lain belalang,lain lubuk lain ikannya”.
Namun cepat atau lambatnya proses tersebut, tergantung pada diri individu tersebut untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan kebudayaan yang baru. Dalam buku ini, menceritakan pengalaman perempuan Indonesia yang mengikuti suami menetap di negara suaminya atau negara lainnya (diluar negara suaminya),namun masih dikategorikan negara Eropah (Belanda,Rusia, Swedia, Swiss, Italia).
Dan khusus untuk Yunani, berkaitan dengan pengalaman penulis yang bersuamikan dari negara Yunani, lebih banyak mendeskripsikan atau menuliskan secara etnografi tentang Yunani ( bab IV ), tulisan etnografi ini dipaparkan secara ringan dan mudah dipahami, sehingga buku ini juga bermanfaat bagi orang-orang yang ingin berkunjung ke negara Yunani atau sebagai buku panduan bagi para turis Indonesia.
Mulai dari, alam & geografis, demografi, sistem pemerintahannya, nilai-nilai yang dianut, tingkah laku ( stereotipe orang Yunani ), sistem perkawinan, pola makanan, sistem menyapa & memanggil, daily routine dan tradisi-tradisi yang khas ada di Yunan ini. Begitupun untuk negara-negara lainnya seperti : Belanda, Swedia, Italia, Rusia, dan Swiss.
Kelemahan dari buku ini adalah : photo-photo yang dimasukkan dalam tulisan ini lebih pada photo sebagai objek kebendaan seperti bangunan tempat tinggal apartemen, panorama, dan beberapa jenis makanan khas negara tersebut. Sebaiknya juga melampirkan photo-photo yang mencerminkan bagaimana kehidupan keluarga dari perkawinan antarbangsa ini, intinya pada orang-orang, bukan hanya tampilan kebendaan. Kalaupun mencantumkan photo dengan benda, namun mesti ada orang yang berkaitan dengan benda tersebut.Sehingga photo menjadi “hidup” dan menyampaikan pesan penting dan mendukung dari narasi tulisan.
Perbedaan disiplin lain dengan antropologi adalah terutama dalam menampilkan karya visual seperti photo-photo, yang disebut dengan antropologi visual. Dalam hal ini penulis, memiliki background ilmu sosiologi dan memiliki pengalaman dalam riset sangatlah mengerti tentang hal ini. Berbagai pengalaman penulis dalam pekerjaan dan menulis, memberikan warna hidup dalam buku ini.
Kemudian hadirnya beberapa istilah antropologi yakni asimilasi dan aqulturasi, yang keduanya merupakan proses dari terjadinya percampuran dua kebudayaan yang berbeda. Namun tingkat percampuran kedua konsep ini berbeda, satu sisi masih memperlihatkan masing-masing budaya dan di sisi lain menghadirkan budaya baru yang terbentuk dari hasil percampuran tersebut. Dalam hal ini tidak diperlihatkan secara dalam oleh penulis, bagaimana hasil kedua konsep ini dalam kehidupan rumahtangga ke 6 perempuan Indonesia dan sampai pada anak-anak mereka. Sosialisasi dan internalisasi nilai apa yang dipakai dalam kehidupan rumahtangga dari hasil perkawinan antarbangsa ini, tarik-menarik budaya (Indonesia sebagai budaya ibu) dan budaya dimana mereka tinggal ataupun budaya dari bapak / pria (Eropah). Proses pinjam meminjam kebudayaan akan terjadi, dalam rangka survive bagi keluarga / rumah tangga mereka.
Akhirnya, buku ini bermanfaat sekali bagi perempuan Indonesia yang mau...akan...telah memiliki “Love” pada pria asing, sehingga menjadi “warning” apabila akan melangsungkan pernikahan/perkawinan. Saran terakhir : mesti hadir suatu tulisan tentang bagaimana perkawinan antarbangsa dari sisi laki-laki Indonesia dengan perempuan Asing.
Terima kasih.

Rabu, 13 Februari 2008

Cara berhenti Merokok dan Minum tanpa biaya

Cara berhenti Minum dan Merokok tanpa biaya
Hasil riset bulan Maret 2007, Yunani merupakan negara konsumsi rokok terbesar di benua Eropa. Hasil survey ini enggak bikin kaget saya, sebab perilaku merokok sudah jadi budaya di Yunani. Bayangkan saja anak remaja putri atau ABG cewek sudah berani merokok tanpa malu, rasa malu memang kurang di Yunani sebab kontrol sosial kurang terhadap perilaku rokok. Di Indonesia jarang melihat wanita merokok, sebab perempuan merokok konotasinya jadi wanita atau perempuan “ enggak bener”, hanya sayang di bagian putra atau pria Indonesia budaya rokok masih memprihatinkan, bahkan semakin banyak anak ABG yang laki – laki mulai merokok. Padahal merokok itu perilaku “bego” bener–bener udah enggak mode lagi kalau pria merokok itu “macho” justru wanita sekarang cari pria yang bersih dan sehat.
Tahunan kita dicuci otak atau salah arah oleh kampanye industri obat–obatan, oleh dokter, ahli terapis dan ahli farmasi. Bahwa menurut mereka jika seseorang kecanduan terhadap narkoba, alkohol, obat–obatan terlarang dan rokok harus diobati dengan obat juga ataupun ditoksikasi. Mereka mengklaim bahwa masalah berhenti merokok adalah masalah kecanduan nikotin. Mereka akan mengatakan bahwa dalam beberapa bulan anda akan merasa sakit kepala, mual, stress karena kekurangan nikotin. Cerita ini sudah basi, jangan percaya sama omongan mereka.
Anda dapat membaca artikel ini mengenai bagaimana cara berhenti merokok dan anda dapat melawan “kecanduan nikotin”.
Dua pertanyaan yang harus anda tanya pada diri sendiri:
1. Kenapa anda merokok? Karena nikotin!
2. Kenapa anda sulit untuk berhenti merokok? Karena mental ketagihan. Sejujurnya rokok adalah teman terdekat anda, teman setia!
Itulah masalahnya!
Untuk berhenti merokok duduk dan dengarkan, atau anda belum pernah tahu dan dengar sebelumnya? Baca artikel ini, jangan minum sembarang obat, tempelan di badan, permen karet nikotin ( nikorette) atau terapi laser!

Sebelum baca artikel di bawah ini coba pikirkan; berapa banyak uang yang habis buat beli rokok?
Berapa banyak uang yang akan habis untuk membeli rokok lagi?

Coba lihat: contoh harga sebungkus rokok Rp 4700
Bks/hari Rp/hari Rp/minggu Rp/bulan Rp/tahun Rp setelah 10 tahun
1 4.700 32.900 141.470 1,710.000 17,108.000
1.5 7500 49.350 212.210 2,566.000 25,662.000
2 9400 65.800 282.940 3,421.000 34,216.000
2.5 11.750 82.250 353.680 4,277.000 42,770.000
3 14.100 98.700 424.410 5,132.000 51,324.000
Berapa lama anda ingin hidup di dunia?
Anda dapat mulai menghitung, walau rokok ada dimulut, dan lupa berapa banyak uang yang terbuang atau penyakit yang akan anda derita akibat rokok, belum lagi baju dan ruangan anda yang berbau tidak sedap akibat rokok. Itulah sebabnya dalam agama Islam merokok itu oleh sebagian ulama disebut makruh atau bahkan ada yang mengharamkan rokok. Bukan agama Islam saja agama lainnya juga berpendapat sesuatu yang mengakibatkan kerusakan atau bahaya sifatnya harus dihindari.

Kenyataan bahwa anda harus berhenti merokok dengan mudah sebab merokok bukan kesenangan alami. Tubuh anda menolak rokok; anda berdahak, anda batuk, dll. Tubuh anda sendiri mengatakan rokok itu benda buruk! Bagaimanapun, anda akan mengatakan “ saya menikmati rokok” atau “ enak merokok setelah makan”, tetapi hal ini akibat dari industri rokok yang membuat anda percaya merokok adalah alamiah dan sesuatu yang menyenangkan.

Anda harus belajar mengatakan “ saya benar–benar tidak mau merokok”, anda tahu paru – paru kita penuh dengan udara bersih, berton energi, bukan nafas yang pendek, gigi putih bersih, peningkatan kebersihan mental, ketajaman rasa menikmati makanan , dan peningkatan rasa percaya diri setelah menang melawan kecanduan nikotin.


Hanya otak pikiran anda yang dapat menyakinkan tubuh anda ketika mulai merokok, anda merasa jagoan, merasa enak dll, dan hanya otak pikiran anda yang dapat meyakinkan tubuh anda bahwa anda harus berhenti merokok.

Inilah cara CORE yang saya tulis dalam naskah buku kedua saya yang berjudul “ ALKOHOL dan bagaimana cara mengatasi kecanduan minum”.


Beberapa orang mengetahui bahwa mereka mempunyai masalah kecanduan minum alkohol , tetapi mereka tidak tertatrik untuk pergi ke pusat rehabilitasi atau ke pertemuan alkohol anonimus (AA).
Di bawah ini mengetengahkan langkah–langkah mudah atau cara gampang yang dapat membantu anda mengatasi kecanduan alkohol:


1. Sadari kenapa anda minum alkohol. Di dalam kelompok Alkohol Anonimus (AA), alkoholik disebut penyakit yang hanya oleh kekuasaan yang diatas (Tuhan YME) dapat membantu menyembuhkannya. Tetapi diluar kelompok AA ada cara dan pendapat lain mengenai masalah ketergantungan alkohol. Salah satu cara yang terbaik adalah melihat maslaha minum sebagai gambaran yang berkaitan dengan hal ketahanan insting. Para ilmuwan telah lama menemukan bahwa otak manusia dibagi atas dua golongan dasar, yang disebut otak manusia “neocortex” bagian sadar otak yang sangat kompleks (otak anda) dan “midbrain”otak bawah sadar yang berfungsi untuk pertahanan hidup, otak ini berhubungan dengan ; bernafas, nafsu makan, sex dll. Selanjutnya “midbrain’ dalam artikel ini disebut otak hewan atau otak alkohol atau otak rokok. Otak hewan hanya berhubungan dengan masalah ketahanan hidup, ketika anda secara kimiawi tergantung pada alkohol, otak ini berkerja secara salah berpikir bahwa anda butuh alkohol untuk bertahan hidup. Karena itu anda bisa sebut otak hewan itu sebagai “ otak alkohol”." Jika anda tidak mengerti bagaimana otak alkohol itu bekerja , maka otak manusia ( anda) mudah dikelabui untuk minum alkohol. Bagaimanapun, sekali anda mengerti kenapa anda minum, maka mulailah beraksi dengan proses CORE; Commit, Objectify, Respond, Enjoy. Proses sederhana ini dapat membantu anda menjauh dari alkohol selamanya.
2. Commit
Lakukanlah pada diri anda untuk hidup tanpa alkohol selamanya. Anda tidak butuh alkohol untuk bertahan hidup. Otak manusia lebih cerdas dari otak alkohol yang tidak mengerti bahwa kamu dapat hidup tanpa alkohol. Anda dapat mengelabui otak alkohol dengan belajar berpikir bahwa otak alkhol adalah sesuatu diluar diri anda . Cara ini, ketika otak itu meminta alkohol, anda dapat katakan padanya “tidak akan”. “ketika anda berpikir hal ini, anda akan mendengar otak alkohol menolak dan memohon pada anda “ jangan bilang tidak akan pernah lagi minum”. Otak alkohol ini tidak mau anda berhenti minum, karena otak itu berpikir anda akan mati tanpa alkohol. Tetapi anda lebih cerdas dari otak alkohol itu, dan anda tahu bahwa anda harus berhenti minum. Buat rencana untuk berhenti selamanya. Ketika anda siap, katakan pada diri anda " aku tidak akan minum lagi”." Bersiaplah unutk merasakan sesuatu; bahwa anda takut, panik, marah, depresi atau merasa tidak nyaman, hal ini akibat otak alkohol bekerja pada diri anda.

3. Objectify.
Jadikan otak alkohol anda sebagai objek. Berpikirlah bahwa otak itu bukan bagian dari diri anda, dan belajar mendengarkannya berbicara pada anda. Otak alkohol itu akan berusaha agar anda kembali minum, karena otak itu bekerja secara salah percaya bahwa anda butuh minum alkohol unutk bertahan hidup. Jika anda merasa nyaman , maka otak itu akan berkata pada anda unutk minum agar anda merasa lebih baik dan akan nyaman. Jika anda merasa senang, otak alkohol itu akan mengatakan anda harus minum ke pesta atau merayakannya. Pada kenyataannya, otak itu akan berusaha dalam semua kesempatan untuk baik itu buruk atau baik dalam kehidupan anda sebagai usaha agar anda kembali minum. Kapanpun anda berpikir atau merasa mau minum alkohol, maka sadarilah bahwa otak hewan atau otak alkohol yang mencoba mengelabui anda lagi. Jadikan otak tersebut sebagai benda dengan mengatakan “ dia mau minum” dari pada “ aku mau minum”. Ketika anda menjadikan otak alkohol sebagai benda, anda akan menyadari bahwa dia tidak punya kekuatan untuk mengalahkan anda. Anda yang mengendalikan diri anda sendiri, otak alkohol adalah orang lain.. Segala macam cara otak alkohol akan berusaha mengelabui anda agar minum dan anda dapat mengelabui otak itu juga setiap waktu. Otak manusia lebih cerdas dari otak hewan.
4. Respond.
Jawablah “tidak” setiap kali otak alkohol meminta anda untuk minum. Hal ini akan membuat otak alkohol akan mundur to back down, karena otak alkohol itu mengenali bahwa bukan dia lagi yang mengendalikan dan tidak akan ada jalan baginya untuk memaksa anda unutk menuang alkohol ke tenggorokan anda. Otak alkohol pada awalnya akan kembali mencoba mengelabui anda dengan berbagai macam yang berbeda agar anda minum kembali, tetapi sekarang anda mempunyai informasi ini , anda akan tahu apa yang akan dimunculkan oleh otak alkohol untuk mempengaruhi anda setiap saat. Ingatlah setiap pikiran atau perasaan ingin minum mucul setiap saat itu adalah akibat berkejanya otak alkohol. Ketika anda mengenalinya, katakan saja “ Aku tidak akan minum” dan lanjutkan dengan perkerjaan apapun yang bisa anda lakukan. Jangan berdebat dengan otak alkohol, katakan saja bahwa anda tidak akan minum lagi. Otak alkohol biasanya akan kehilangan keberanian sejalan dengan berlalunya waktu, dan akan berkurang mengganggu anda. Tidak begitu lama, anda akan ahli dalam hal mengendalikan otak alkohol dan dengan mudah anda akan hidup sadar dan normal tanpa mabuk.
5. Enjoy
Nikmati kesembuhan anda dari ketergantungan alkohol. Jangan takut bahwa anda akan tergelincir atau kambuh lagi, karena ketakutan adalah bekerjanya otak alkohol, yang mencoba agar anda menyerah. Sekali anda belajar proses CORE , maka tidak mungkin anda akan kembali minum, karena setiap kali anda berpikir mau minum alkohol, anda akan melihat dan sadar bahwa pikiran itu berasal dari otak alkohol. Ingatlah, hanya otak alkohol anda yang ingin minum. Anda tidak mau minum, anda ingin berhenti minum. Anda lebih cerdas dari otak alkohol, dan sekarang anda tahu bagaimana cara mengalahkannya. Dalam waktu dekat, proses CORE menjadi otomatis, dan anda tidak perlu bekerja keras untuk tetap hidup tanpa alkohol. Anda mungkin akan merasa tidak nyaman, marah, sedih, atau depresi suatu saat, tetapi hal ini sudah lumrah. Jika otak alkohol mencoba menggunakan perasaan – perasaan ini untuk minum lagi, anda akan tahu semunya terserah anda, dan anda tahu bagaimana cara mengatasinya. Katakan saja “ saya tidak akan minum” dan lanjutkan kehidupan anda tanpa alkohol. Hidup tanpa alkohol menjadi hidup nikmat dan lebih baik.

• Proses Core dapat dilakukan juga pada masalah ketergantungan lain di luar alkohol. Teknik ini bisa digunakan untuk kecanduan rokok dan obat – obatan atau bahan berbahaya lainnya. Jika datang saatnya untuk berhenti, seluruh bahan ketergantungan akan bekerja dengan cara yang sama. Ganti saja kata alkohol atau hewan dengan kata yang berhubungan dengan bahan ketergantungan anda apapun jenisnya. Anda tidak harus menggunakan obat atau intoksinasi bahan melawan pikiran baik anda. Proses CORE sama dengan pendekatan yang dapat membantu anda belajar untuk mengambil kendali secara cepat dan mudah. Ketergantungan atau ketagihan adalah musuh yang kuat tetapi ilmu pengetahuan adalah kekuatan diri kita. Satu lagi yang terpenting yaitu kekuatan Yang Maha Kuasa, lakukan ibadah dekat dengan Tuhan setiap saat. © Hartati Nurwidjaya

Daftar Pustaka:
1. Eraly, Eric . The Easy to quit Smoking Method, e-book, 2007.
2. Wikipedia, How to quit alcohol, 2007.

Senin, 28 Januari 2008

Cara Membaca Buku Hemat Biaya

"Wear the old coat and buy the new book."
Austin Phelps

Reading, after a certain age, diverts the mind too much from its creative pursuits. Any man who reads too much and uses his own brain too little falls into lazy habits of thinking. Albert Einstein



Semua juga tahu kalau membaca sudah merupakan kewajiban bagi penulis. Membaca gratis biasanya di perpustakaan, hanya terkadang lokasi perpustakaan yang sulit dijangkau dan jarang tersedia buku baru membuat saya malas pergi perpustakaan.

Bagi yang awam soal dunia tulis menulis, suami saya misalnya. Dia heran kenapa saya sejak menjadi penulis senang membeli buku daripada baju atau barang ‘non benefit”. Saya jelaskan bahwa bagi seorang penulis membaca wajib dan untuk menulis sebuah buku diperlukan banyak referensi, bisa saja menulis sebuah satu buku membutuhkan 100 buku referensi. Suami akhirnya mengerti dan saya jelaskan, prinsip ekonomi bahwa jika membeli buku maka buku bernilai ekonomi tinggi, sebab buku terus membawa manfaat, kalau baju usang dipakai habis tidak bawa manfaat lainnya.

Sebagai ibu rumah tangga yang tidak punya penghasilan, sisa uang belanja atau kemurahan hati suami memberi uang adalah modal untuk membeli buku. Buku-buku referensi saya harganya cukup mahal sebab harus dipesan melalui toko buku yang ada di Athena.

Toko buku favorit saya adalah Papasutirou. Toko buku ini selain melayani pembelian online juga mempunyai 31 toko yang tersebar di seluruh Yunani. Pada mulanya saya datang ke toko buku mengambil pesanan lalu langsung pulang.

Setelah beberapa kali mengunjungi toko buku tersebut, akhirnya toko buku ini menjadi tempat rekreasi bagi saya dan anak-anak. Karena di toko buku Papasutiriou tersedia tempat dan bangku khusus unutk anak-anak membaca, menggambar atau hanya sekedar melihat-lihat.

Di bagian belakang tersedia banyak bangku dan tempat duduk berbentuk panggung untuk membaca bagi orang dewasa. Tersedia kopi hangat, air putih,sedangkan teh tidak ada karena memang tidak populer bagi masyarakat Yunani. Bahkan terkadang disediakan kue jika ada perayaan khusus.

Melihat ada beberapa orang yang duduk membaca dan bahkan mencatat buku, akhirnya saya mencoba melakukan hal yang sama dengan anak-anak. Datang ke toko buku, membaca buku dan mencatat isi buku. Saya mendapat bahan referensi tanpa harus membeli. Hemat pengeluaran dan anak-anak senang diajak ke toko buku.

Design kafer buku dan bahan buku untuk anak-anak sangat menarik hati. Ada buku yang didesign seperti permen warna-warni, ada yang berpita-pita dan bahkan dengan kertas glitter yang berkemilauan. Harga bukunya tentu saja mahal, berkisar antara 10 euro hingga 20 euro untuk buku anak-anak.

Buku-buku yang dijual di Yunani rata-rata tidak disegel atau dibungkus plastik, sehingga pembeli dapat melihat isinya dan bisa memilih. Namun tidak semua buku bisa dicatat isinya di toko, jika buku yang perlu pemahaman mendalam mau tidak mau harus dibeli. Dibaca lebih dalam di rumah dan menambah koleksi perpustakaan pribadi sebagai warisan buat anak cucu.

Buku cetakan bagi saya pribadi tetap unggul dibanding e-book, sebab buku cetak bisa dibaca kapan saja dimana saja dan ringan. E-book jika di print out akan menghabiskan waktu, kertas dan tinta printer selain kemasannya tidak menarik minat. Namun e-book unggul jika buku tersebut merupakan buku langka, buku mahal dan dapat dibaca gratis dan didownload gratis, di www.questia.com misalnya.

Jumat, 11 Januari 2008

Chess and Soccer

Saya pernah menulis artikel sebelumnya tentang olah raga yang paling saya suka adalah permainan catur. Sedangkan di artikel lain, saya menulis tentang olah raga yang paling suka saya tonton adalah sepak bola. Sebab sepakbola permainan paling sportif, dituntut kerjasama dan kejujuran serta team work yang kuat.

Apa sih hubungannya Catur and Sepakbola?

Saya perhatikan dan amati bahwa motivator dunia yang beken, mulai dari Jim Rohn, Jack Canfield, James Ray, Mike Brescia, Ron White, Denis Waitley, Zig Ziglar dll selalu menampilkan iklan diwebsite masing-masing. Iklannya bukan hanya di websitenya tetapi juga di newsletter.

Apa yang diiklankan para motivator beken itu?
Iklan oleh motivator beken itu tidak lain adalah promosi buku hasil tulisan motivator lainnya. Ada istilah WinningCombo; dua motivator yang saling membantu satu sama lainnya. Bahkan saya melihat semua motivator diatas membentuk networking dan bersatu, hampir say atidak melihat adanya persaingan antara mereka.

Bahkan Jenffrey Gitomer yang ahli sales pun memasang iklan bukunya Ron White dll.
Kesuksesan dan kejayaan serta kebahagiaan mereka rahasianya sama dengan konsep bermain sepak bola.

Sedangkan di Indonesia, saya belum melihat adanya kerjasama yang erat antara sesama motivator. Coba lihat website Andrie Wongso, Tungsem, Adi W Gunawan, atau lainnya, belum ada satupun yang menampilkan atau menulis tentang keunggulan motivator lainnya. Semuanya lebih mengacu ke-akuannya; menulis tentang dirinya sendiri. Itulah mental catur, dalam permainan catur tidak ada team work, yang ada gimana bikin lawan mati; skak mat!


Saya senang sekali ketika Jonru, tentor dari Belajarmenulis.com mengumumkan agar memasang link bannernya di blog masing-masing dengan iming-iming hadiah. Jonru ternyata lebih sportif dan menerapkan iklan personal brandnya lebih sportif.

Tadi pagi saya bincang-bincang dengan Bung Faif Yusuf sedikit tentang cara-cara mempromosikan buku. Jika saja semua penulis bermental sepak bola maka semua buku kita akan bestseller. Laris boo!

Rabu, 09 Januari 2008

TEMPE; A HEALTHY SOY BEAN


TEMPE: A HEALTY FOOD FROM INDONESIA


Thou art a scholar; let us therefore eat and drink.
~ William Shakespeare (1623/1936)

In the past, if someone asks “ What is your most favorite things?” I used to say “food!”

My answer is ridiculous! But it doesn’t mean I want to show people that I dont care about other important things in life, nor to show that in my mind it’s only meal, what kinda meal that I will have for breakfast, lunch and dinner.

Talk about food; West Sumatra cuisine is one of my favorite cuisines and I am fond of, but there is other cuisine I am fond of that hardly found in other places of Indonesian archipelago named sego kucing or cat rice, that is only can find in Yogyakarta–central Java. For those who never been to Yogyakarta might think about the cuisine is for feeding cat. Sego Kucing or Cat-rice is made from steam rice and sauté of tempe.



Any visitor to an Indonesian market or dinner table will almost certainly come across tempe, though wonder what on earth it really is. Closely resembling a Camembert cheese in colour and texture with a mushroom-like aroma, tempe is in fact one of the world's first soybean foods. It is composed of cooked soybeans that have been fermented through by an edible fungus which, when mature (like a cheese) becomes an attractive and aromatic white cake suitable for a variety of uses in hundreds of local dishes.
Now, research in food science and nutrition has shown tempe to be unique amongst vegetarian foods, and already popular among vegetarians in the USA and Australia. An ever popular and versatile ingredient in Indonesian dishes, it represents a food that has evolved in the archipelago and within Indonesia has become synonymous with Indonesian traditional cookery. In the sense of 'as American as apple pie', tempe is the soul of village food to the Javanese.
What is Tempe and why is it so special?

Tempe is a fermented soy bean product originally made by Central Javanese people through fermentation with Rhizopus species. Although there is evidence of earlier fermentation of soy, tempe had appeared in the Central Javanese food pattern in the 1700s.

Through its extensive use in main meals and snacks, it has led to people in the Jakarta having the highest known soy intake in the world and accordingly of the isoflavones contained.This provides an unique opportunity to consider the health effects of tempe (and soy), both beneficial and potentially toxic. Apparent health benefits are bowel health, protection against cardiovascular disease, certain cancers (e.g. breast and prostate) and menopausal health (including bone health).




Protection against cardiovascular disease

The result showed that tempe feeding lowered the cholesterol level in the tempe group, possibly due to the high content of cholesterolreleased from the liver through the bile (M Astuti, unpubl.data, 1997). According to Gorcia Hermosilla et al. free fatty acids in tempe inhibited the action of hydroxymethyl glutaryl CoA reductase, an enzyme which is responsible for cholesterol synthesis in the liver.

Hypocholesterolaemic properties of tempe in human subjects were studied by Astuti et al.In a feeding-trial of instant tempe-formula on 24 (8 male, 16female) volunteers. Each respondent drank the formula daily for 3 months.

The lipid profile, malondyaldehyde (MDA) and uric acid levels were measured in serum of each respondent as baseline before the feeding trial, every month during the feeding and 2 months after the feeding trial. Malondyaldehyde is one of the products from the decomposition of fatty acid in lipid peroxidation. It is able to reach cell and tissue, thus resulting in cell damage. It does not only damage lipid molecules, but also non-lipid biomolecules, such as protein and nucleic acid.

Damaged nucleic acid, especially in the nucleus, may cause gene mutation, which is able to promote cancer. It showed that during the feeding trial, total cholesterol decreased 8.6% and 10.25% in males and females, prespectively, but then increased in the same level of initial stage for both male and female respondents after 2 months ofnot consuming tempe formula.

The LDL cholesterol levels decreased 12% in male and 9.67% in female respondents and then increased 9% in males and 15.5% in females after2 months of not consuming the tempe formula. Lipid peroxidation which is expressed as MDA decreased 23% for both male and female respondents and then increased 13% inmales and 15% in females after 2 months of not consuming the tempe formula.

Uric acid level did not differ from baseline in the male group, but decreased about 14% in the female group, then increased in the same level of initial stage after 2 months of not consuming the tempe formula. Even though this was an uncontrolled study, these results are encouraging.
The effect of tempe on Superoxide Dismutase enzyme (SOD) modulation was studied by Astuti, by using 45 copper-deficient male Wistar rats which were divided into five groups of nine rats and were fed with diets of different tempe concentrations (0, 25, 50, 75 and 100%, respectively) for 45 days.

Copper is known as an important trace mineral acting as a cofactor of SOD. Theactivity of SOD and lipid peroxidation were evaluated from the serum. The highest inhibition of SOD against lipid peroxidation and the lowest level of MDA were found in rats on the 100% tempe diet as a source of protein and copper. Copper as a component of SOD plays a dual role in SOD activity, as a cofactor as well as regulator.

Possible role of tempe in cancer prevention
Recently, attention has also focused on the potential role of soybean products in reducing cancer risk. Asian countries have among the lowest rates of common cancers in Westernsociety such as breast, prostate and colon cancer. (Kiriakidis S, et al 1996)

The protective effect of a diet high in soy may partly explain it. An epidemiological study on colorectal cancer in Japan found that frequent consumption of soybeans and tofu markedly decreased both rectal and colon cancer risk. Demonstrated that tempe, specially its glucolipids, inhibits the proliferation of tumour cell in mice. Indonesians are known as the largest soybean-consumers, especially in the form of tempe and tofu, in the South-East Asian countries. However, epidemiological studies relating to tempe con-sumption and the prevalence of cancer, particularly in Indonesia, have not yet been conducted.


Menopausal symptoms

There are studies reporting a lower incidence of menopausal symptoms in Asian populations consuming high levels of soy, such as Japan, China, Korea and Indonesia. These oestrogenic compounds may play an important role in the prevention of menopausal symptoms.

Trials to date have not been properly designed to determine whether these compounds act similarly to oestrogen in alleviating menopausal symptoms. There is no epidemiological data specifically on M Astuti, A Melial, FS Dalais and ML Wahlqvist
The long use of tempe at all stages of life, without recognised adverse effects, suggests it is relatively safe at the levels of intake seen in Central Java. However, further research on soy, both fermented and non-fermented, in Central Java should yield more insight into the mechanisms of action and the safe ranges of intake ( Mary Astuti, et al, 2000).



Production
Tempe begins with whole soybeans, which are softened by soaking and dehulled, then partly cooked. Specialty tempehs may be made from other types of beans, wheat, or may include a mixture of beans and whole grains.
A mild acidulent, usually vinegar, may be added in order to lower the pH and create a selective environment that favors the growth of the tempeh mold over competitors .A fermentation starter containing the spores of fungus Rhizopus oligosporus is mixed in. The beans are spread into a thin layer and are allowed to ferment for 24 to 36 hours at a temperature around 30°C (86°F). In good tempeh, the beans are knit together by a mat of white mycelia.
Under conditions of lower temperature, or higher ventilation, gray or black patches of spores may form on the surface -- this is not harmful, and should not affect the flavor or quality of the tempeh. This sporulation is normal on fully mature tempe. A mild ammonia smell may accompany good tempeh as it ferments, but it should not be overpowering. In Indonesia, ripe tempeh (two or more days old) is considered a delicacy.
Preparation
In the kitchen, tempe is often prepared by cutting it into pieces, soaking in brine or salty sauce, and then frying. Cooked tempe can be eaten alone, or used in chili, stir frys, soups, salads, sandwiches, and stews. Recent popular vegan cookbooks, such as Isa Chandra Moskowitz's "Vegan with a Vengeance", have come up with more creative ways of cooking tempe, using it as a vegetarian substitution for breakfast meats, such as sausage and bacon.
Tempe has a complex flavor that has been described as nutty, meaty, and mushroom-like. Tempe freezes well, and is now commonly available in many western supermarkets as well as in ethnic markets and health food stores. Tempe performs well in a cheese grater, after which it may be used in the place of ground beef (as in tacos).
When thin sliced and deep fried in oil, tempe obtains a crispy golden crust while maintaining a soft interior - its sponge-like consistency make it an excellent base for all marinades. Dried tempe (whether cooked or raw) provides an excellent stew base for vegetarian traveller. While some claim that tempe should not be eaten raw, others have done so without ill effect for many years. For the Thanksgiving holiday, tempe (as dark meat) and tofu (as white) may each be thick-sliced and baked with a standard dressing/stuffing preparation to provide a vegetarian alternative to turkey meat.


Types of tempe
Name
Description
tempe bongkrèk
made from or with coconut press cake
tempe bosok (busuk)
rotten tempe, used in small amounts as a flavouring
tempe gembus
made from okara1
tempe gódhóng
tempe made in banana leaves
tempe goreng
deep-fried tempe
tempe mendoan
raw-fried tempe
tempe kedelai
simply tempe, made from soybeans
tempe murni
tempe made in plastic wrap (lit. pure soybean cake)
tempe oncom
also onchom; made from peanut press cake; orange color; Neurospora sitophila
1Okara or soy pulp is a white or yellowish pulp consisting of insoluble parts of the soybean which remain in the filter sack when pureed soybeans are filtered in the production of soy milk. It is low in fat, high in fiber, and also contains protein, calcium, iron, and riboflavin. Okara contains 76 to 80% moisture, 20 to 24% solids and 3.5 to 4.0% protein. On a dry weight basis okara contains 24% protein, 8 to 15% fats,and 12 to 14.5% crude fiber. It contains 17% of the protein from the original soybeans

After I moved to Greece, I have adapted to Greek cuisine. Luckily I dont have problems to enjoy my new country cuisine because Greek cuisine is simple and delicious, the flavor comes from the purity and freshness ingredients.

Greek cuisine also has many variety of soy bean, such as Fasolia Salata, Fasolia soup and fasolada ( dried bean soup).

Indeed, I live far from Indonesia, I still can enjoy eat tempe while I am in Greece. Moreover, you can easily find some Asian foods in Athens. For instance, you can buy tempe which is imported from Holland at Asian Market in Ambelokipi area.

One thing that I concern is about the product rights (patent) of tempe which is originally made in Indonesia. However, I found out that tempe is the product rights of USA, Japan, and Germany instead of Indonesia.


ConclusionDiet as a part of lifestyle plays an important role in maintaining nutrition and health. Tempe is considered as a good source of protein, vitamin B12, antioxidants, phytochemical and other bioactive substances. Numerous studies to date strongly indicate that soybean-based tempe offers positive nutritional and health benefits. However, the recommendation of tempe consumption should be based on and supported by scientific experiments which show that tempe has indeed specific beneficial effects in human health. Continued multidisciplinary scientific research will provide a better understanding and further knowledge on the identification of the beneficial components and mechanisms of action, function, nutritional and health aspects of tempe. Furthermore, contribution from nutrition and the food-science community from all over the world to develop tempe from a variety of legumes as a raw material that are nutritious, tasty, acceptable and affordable will help us meet the challenge of health for all towards the 21st century.

Megara, 1 July 2007

Sources:
1. Wikipedia
2. Mary Astuti, et all, Tempe, a nutritious and healthy food from Indonesia, Asia Pacific Jurnal Clinic Nutrition, 2000.
3. Kiriakidis S, et al, Fatty acid ester of sitosterol 3 beta glicoside from soybeans and tempe (fermented soybeans) as antiproliferative substances, J Clin Biochem Nutrition, 1996.
4. Logue A. W, The Psychology of Eating and Drinking, Brunner-Routledge,
New York, 2004.

Senin, 07 Januari 2008

Makna Tahun Baru 1429 H

Dalam sebuah milis agama yang saya ikuti, saya menulis di milis tersebut bahwa saya mencari bantuan untuk menjawab pertanyaan putri cilik saya tentang makna gerakan Solat.

Sifat kritis anak usia jelang 10 tahun. Saya jelaskan bahwa perintah Solat datang dari Allah SWT kepada Rasullah SAW ketika menjalani Isra Mi’raj. Gerakan Solat sudah ditetapkan dan setiap perintah Allah SWT kepada ciptaannya adalah untuk kebaikan hambanya. Gerakan solat seperti yang dilakukan oleh Rasullah SAW dan diperintahkan kepada kita semua memberi manfaat dan kebaikan bagi jasmani dan rohani manusia yang melakukannya.

Saya menerima 3 jawaban dari anggota milis tersebut, bahwa saya disarankan agar melakukan hijrah atau pindah dari negara dimana saya bertempat tinggal. Jawaban yang sangat baik dan memberi jalan keluar bagi setiap persoalan yang berkaitan dengan pendidikan agama bagi anak-anak saya. Namun bagi kami sekeluarga hijrah saat ini bagaikan sebuah kotak Pandora.

Alhamdulillah hari ini saya mendapat jawaban dari DR Jamal Badawi(jamalbadawi@hotmail.com). Ppendapat pribadi saya sebelumnya bahwa dimanapun kita tinggal di bumi ini, maka tanah yang kita pijak adalah bumi Allah SWT.

Kami sekeluarga memang tinggal di negara non muslim dimana anak-anak tidak mendapat pendidikan agama Islam dengan mudah seperti di Indonesia yang mayoritas muslim. Lokasi kami tinggal jauh dari kota Athena; tempat terdapatnya Islamic Centre dan Pusat Kebudayaan Arab.

Pendapat DR Jamal Badawi anggota European Council for Fatwa and Research:

1. Jika seorang muslim tidak dapat melakukan ibadah dasar seperti solat, puasa, zakat dan berhaji (Pillars of Islam), maka wajib ia harsu pindah ke tempat yang bebas ia melakukan ibadahnya. Negara kami tinggal adalah anggota Uni Eropa dan sudah meratifikasi kebebasan beribadah sesuai perintah agama bagi penduduknya.

2. Jika seseorang merasa anak-anaknya akan kehilangan arah dan terancam imannya, salah satu cara untuk menyelamatkannya adalah harus pindah. Tetapi bisa juga tidak pindah, jika anak diberikan pelajaran agama di rumah, di Islamic center dan berhubungan serta berkomunikasi dengan komunitas muslim yang ada. 3. Jika semua muslim seharusnya pindah ke negara muslim, bagaimana dengan orang-orang yang yang menerima Islam sebagai agamanya harus meninggalkan negara kelahirannya, mau kemana mereka perginya?

4. We should remember that there is hardly any place in the Muslim world where Muslims can practice their faith fully and completely including not only acts of worship, but also a truly Islamic and consultative system of government.

5. Therefore, each person should evaluate their own situation and avoid sweeping generalization about the desirability of continuing their lives where they are presently citizens or to consider other options.

6. After all, the active Muslim presence in non-Muslim societies is a great means of conveying the message of Allah and exemplifying it to their fellow citizens.
What about leaving one’s country and living in a non-Muslim country because the regime in one’s country is not that good?
Islam is for all people and for all times and where they are. All earth is the land of Allah. A Muslim is supposed to try all his or her best to conduct an Islamic life wherever he is.

Kamis, 03 Januari 2008

Mengapa Saya Menulis?


“Tajamnya sebuah pena, lebih tajam dari sebilah pedang” Orang Bijak


Sejak kecil jika ditanya oleh orang, “cita-citanya mau jadi apa?”
Jawaban yang diajarkan oleh ayah atau mama bukan jadi Penulis. Memang saya sejak awal selalu diarahkan harus menjadi dokter. Hal ini terbukti ketika saya duduk di bangku SMA kelas satu dan harus menentukan jurusan yang dipilih, maka ayah memaksa saya agar masuk IPA.

Saya katakan pada ayah, ingin masuk IPS. Saya suka ilmu sosial. Ayah marah dan saya harus turuti perintah ayah. Demikian juga ketika saya lulus SMA dan ikut SIPENMARU, ayah melarang untuk mengambil pilihan jurusan Hukum dan Ekonomi. Alasan ayah katanya wanita tidak boleh jadi Hakim menurutnya. Akhirnya saya memilih pilihan pertama Kedokteran, kedua Biologi dan ketiga Sosiologi. Hasilnya saya lulus masuk ke jurusan Sosiologi.

Lulus kuliah langsung dapat kerja, tetapi saya tidak bisa mengetik dengan semestinya. Ayah pernah mengajarkan saya mengetik yang benar, sayang saya tidak serius. Hingga saat ini saya mengetik dengan dua telunjuk. Ayah saat ini sudah tua (86 tahun) dan saya sangat menyesal tidak berguru banyak pada ayah.

Kerja sebagai peneliti membutuhkan saya banyak menulis dan membaca. Hanya ketika itu saya tidak pernah berpikiran mau menjadi penulis yang professional. Anggapan saya ketika itu, bekerja sebagai wartawan atau penulis hanya milik jurusan Komunikasi dan Jurnalistik.

Lambat laun, hobi menulis kembali muncul. Di kantor ada majalah kantor yang terbit tiap bulan dan pengurusnya mendapat honor diluar gaji. Saya akhirnya ikut menjadi redaksi majalah kantor yaitu Warta Pegadaian dan mengurus kolom “Profil”. Tahun 1996 jurnalis dikirim kursus ke Kebon Sirih atas biaya kantor, disanalah kami kursus di gedung PWI.


Hasil kursus hanya memperbaiki gaya tulisan saya di kolom profil. Anggapan saya bahwa tulisan tersebut sudah cukup bagus untuk standar majalah kantoran.

Tahun 2003 saya terpaksa pindah ke negara suami. Sejak menikah dan hamil, tinggal di negeri asing, mengalami kejutan budaya dan sudah jarang membaca buku. Internet hanya digunakan untuk mengikuti milis agama.

Setelah empat tahun menganggur akhirnya saya bangkit dan mulai menulis. Tulisan saya lebih mendekati ke memoir, kisah hidup diri sendiri. Saya mencari kursus yang online untuk belajar menulis

Sebagai ibu rumah tangga dengan tiga anak, saya kerepotan jika kursus keluar dari rumah. Saya mempunyai keinginan yang kuat agar piawai menulis. Akhirnya saya menulis di milis pemberitahuan mencari kursus menulis online. Saya temukan ada kursus online. Sekolah Online BelajarMenulis yang dikelola oleh Founder Milis Penulis Lepas; Bung Jonru.

Keunggulan dari kursus BelajarMenulis ini antara lain; pertama, biaya kursus cukup terjangkau dan tidak mahal. Uang sisa belanja yang ditabung setiap minggu, saya gunakan untuk membayar lunas 6 bulan kursus. Kedua, online kursus dengan sistem chatting sehingga menyenangkan dan terasa segar di pikiran. Ketiga, bisa berkenalan dengan teman sesama peserta kursus yang berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Terakhir BelajarMenulis memberi banyak informasi baru seputar dunia tulis menulis.
Keunggulan lainnya adalah moderator yang sangat cekatan dan sigap. Materi hasil kursus lengkap dikirim oleh moderator ke setiap email peserta.

Kelemahan dari kursus ini adalah kurang efektif. Sebabnya jadwal kursus online hanya seminggu sekali dan pengulangan di hari berikutnya. Jarang diberi tugas menulis, sehingga sebagai peserta merasa kurang disiplin. Mentor yang hanya seorang saja, menyebabkan materi yang dipelajari kurang fokus. Kelemahan lainnya adalah BelajarMenulis belum membantu peserta agar dapat berkenalan dengan media massa dan penerbit. Sebab bukankah setiap tujuan penulis agar tulisannya dapat dimuat atau diterbitkan?


Saya masih suka menulis setiap hari dan hasilnya telah terbit sebuah buku yang ditulis bersama beberapa teman kontributor. Buku berjudul LOve and ShOck . Setiap hari saya menulis terus, beberapa artikel di milis-milis. Saya senang banyak mendapat email yang merespon baik tulisan saya. Tulisan mengenai motivasi diri dan masalah seputar dunia pemasaran buku.





Jumat, 21 Desember 2007

Iklan Dalam Sebuah Buku

Ingat film James Bond yang dibintangi oleh Pierce Brosnan yang rata-rata dipenuhi oleh iklan dari sponsor. Mulai dari jam tangan yang dipakai oleh Mr Bond hingga hotel, restoran, pesawat dan mobil yang digunakannya dalam beraksi membrantas musuhnya.

Iklan dalam sebuah buku masih jarang bisa ditemui, entah mungkin ada peraturannya atau memang dunia buku tidak memerlukan iklan?

Saya melihat ada buku terbit berjudul The Starbuck Experience penulisnya Joseph Michelli, jika membaca bukunya jelas buku ini sebuah iklan untuk Starbuck. Namun buku ini dikemas sebagai buku yang berbasis ilmu ekonomi atau lebih tepat kisah sukses sebuah bisnis perusahaan yang hampir bangkrut dan bangkit sukses.

Sponsor diperlukan oleh sebuah buku agar promosi buku bisa berjalan lancar. Kalau saya boleh berpendapat bahwa iklan didalam sebuah buku wajar saja asal tidak vulgar. Maksudnya tidak vulgar adalah iklan itu sesuai dengan jalan cerita dan isi dari buku.

Dalam beberapa buku fiksi terkadang ada muncul beberapa nama tempat restoran atau nama tempat tertentu. Penulisan yang wajar dalam sebuah kisah novel, dan pembaca juga tidak merasa hal tersebut sebagai sebuah iklan.

Jika penulis cerdik, seharusnya ia bisa mendapat kompensasi dari penulisan nama produk atau tempat. Ketika saya dan EO mencari sponsor untuk peluncuran buku pertama saya http://perkawinan-antarbangsa-loveshock.blogspot.com/ ada beberapa CEO yang menyebutkan jika nama company mereka ditulis dalam buku maka mereka bersedia menjadi sponsor.

Perlu atau tidaknya sponsor bagi seorang penulis memang belum lazim di Indonesia, sebab promosi buku pada umumnya tanggungjawab penerbit. Karena ada sebagian penerbit yang tidak memberi dukungan promosi buku, mak amau tidak mau penulis harus giat dan rajin mempromosikan bukunya sendiri.

Saya sendiri, sudah mendapatkan tempat untuk launching buku kedua di Mal Ciputra Jakarta untuk tahun 2008 ini. Win-win solution mengapa tidak? Mal Ciputra Jakarta muncul di buku saya dan saya mendapat tempat gratis promosi buku. Penerbit juga otomatis mendapat keuntungan dari langkah saya ini.

Siapa yang mau mencoba mencari sponsor untuk promosi bukunya?

Minggu, 09 Desember 2007

Anda Adalah Siapa Teman Anda.

You Are Who Your Friends Areby Jack Canfield and Hartati Nurwijaya.

Adalah penting untuk menyadari kekuatan dari positive thinking. Hal ini terjadi bukan hanya pada diri Anda, tetapi orang-orang disekeliling Anda.

Perilaku sangat mudah dikenali. Baik itu positif maupun negatif, mereka melekat pada diri Anda. Jika Anda dikelilingi oleh orang yang suka mengeluh, suka menghakimi, menyebar gossip negatif, dan senang menyalahkan orang lain, berperan seolah-olah sebagai korban. Oh jauhilah!

Siapakah orang yang dekat dengan Anda? Apakah mereka sudah mencapai impiannya atau orang suka mengeluh pada keadaan? Apakah mereka menyanjung orang yang punya cita-cita tinggi, atau mereka orang yang suka berolok-olok dan melecehkan? Bagaimana mereka memperlakukan Anda?

Jika Anda membuang waktu dengan orang yang tidakmendukung impian dan tujuan Anda, hal yang serius dan sudah waktunya Anda memikirkan siapa teman Anda itu.

Orang yang sukses dikelilingi oleh orang yang sudah sukses. Mudah dan gampang. Mereka orang senang disekeliling orang yang sedang berusaha meraih tujuan dan berusaha menjadikannya kenyataan. Mereka ingin mengetahui bagaimana strategi dan rahasia menjadi pemenang. Mereka tidak malu untuk berada disekeliling orang yang belajar untuk sukses dan mencari rejeki yang halal.

Anda juga, perlu dan butuh dikelilingi oleh pengaruh yang positif. Bergabunglah dengan kelompok orang yang sukses, pelajari apa yang sudah dan sedang mereka pelajari. Tidak jadi masalah Anda dan orang tersebut berasal dari latar belakang yang berbeda. Tunjukkan dan pindahkan diri Anda menjadi seorang yang berjuang meraih tujuan. Sukses bukan hanya milik orang mudah meraihnya, orang yang sudah terlahir sebagai anak orang kaya atau orang yang punya pendidikan tinggi dan mahal. Sangat banyak orang miskin yang sukses dan mereka bisa menghadapi segala rintangan dan mereka berhasil mencapai tujuannya.

Orang yang sukses tidak mendapatkannya dari berteman dekat dengan orang suka menumpahkan energi negatif. Saya sempat berkenalan dengan Deddy Tjipto ketika bertemu di Woman radio, beliau ahli Prana. Kami diskusi masalah energi positif dan negatif. Intinya bahwa energi positif harus ketemu energi positif. Energi negatif dan energi positif jika bertemu akan menghasilkan negatif. Carilah teman yang dapat mengalirkan energi positif, teman yang selalu berkata baik-baik dan teman yang selalu menghibur dan memberi dukungan.

Sebelum saya berkenalan dengan Ibrahim Isa, Edy Zaqeus, Jennie S Bev, Irvan Wirayudha, Ariana Peggy, Jonru, Catur Catriks, Rusdin Din, Eko Sugiarto, Ning Harmanto dan beberapa penulis sukses lainnya. Saya merasa kurang motivasi untuk menulis. Setelah dekat dengan teman alumni sekolah dan penulis bestseller yang banyak memberi dukungan akhirnya buku saya dapat terbit.

Saya pernah dan sering dianggap sombong atau bahkan dianggap kurang pergaulan. Sebab, sejak saya kecil selalu memilih teman. Saya tidak suka teman yang senang menebarkan energi negatif. Saya tidak suka berteman dengan orang tidak bahagia dalam hidupnya.

Energi positif hanya datang dari orang yang menyalurkan energi positifnya. Pertama, ketika saya pertama kali menelepon Rosihan Anwar dari Yunani agar bersedia menjadi pembicara di peluncuran buku. Saya katakan dalam hati harus percaya diri dan bahwa beliau adalah teman saya. Beliau adalah energi positif yang akan membantu saya. Hal itu terbukti tanpa susah payah, beliau yang sudah berusia 80 tahun lebih bersedia hadir dan bahkan membagi ilmunya serta menulis sebuah artikel di tabloid cek dan ricek tentang saya.

Kedua, ketika saya bertemu Jajang C Noer, beliau mengatakan bahwa muka saya cerah. Jajang berkata, ia menilai seseorang dari raut wajah. Lalu saya katakan bahwa rahasia hidup saya adalah berpikir positif. Segala hal yang terjadi dan saya alami semua serahkan pada Allah SWT.
Saya menjadikan anak-anak saya sebagai sumber kebahagiaan, anak yang sehat membuat saya senang. Selama ini saya disibukkan memelihara dan merawat anak tidak terasa berat. Semua saya lakukan dengan senang hati dan

Ketiga, ketika saya membaca buku Jeffrey Gitomer berjudul Yes Attitude. Salah satu hal negatif yang harus dihindari adalah uang. Jangan pernah merasa tidak pernah cukup dengan uang yang Anda miliki. Negatif adalah jika Anda ingin memiliki uang yang lebih lagi.
Hal ini sudah sejak lama saya terapkan tanpa saya sadari. Saya tidak pernah mengenalkan pada anak-anak bentuk uang. Saya tidak pernah memberitahu atau mengajarkan anak-anak saya bahwa uang adalah benda berguna. Saya bahkan tidak pernah memberi uang pada anak; sejak ia sekolah dan hingga kini sudah duduk di kelas empat SD.

Anak-anak saya lebih menghargai buku-bukunya daripada uang. Putra nomor dua bahkan diberi uang oleh Yaya (nenek dalam bahasa Yunani), ia sebutkan uang itu plastik. Ia diberi uang sebab membantu memungut buah zaitun ketika sedang panen. Uang dua lembar 5 euro sampai lecek dan robek sebab tidak seorang anak-pun yang peduli pada uang. Akhirnya saya masukkan dalam celengan mereka.

Sedangkan buku yang saya bawa dari Indonesia, selalu mereka letakkan dekat dengan tempat tidur dan minta dibacakan. Putra nomor dua baru berusia 3 tahun setengah dan si bungsu baru 2 tahun setengah.

Setelah selesai acara roadshow buku, saya tercenung di bandara ketika merasa saya berhasil mencapai impian bahwa buku pertama saya sudah terbit. Saya dan buku diberitakan dalam media massa. Namun, ternyata saat itu saya merasa bahwa hal yang terindah dan paling bahagia adalah bercanda dan bergurau bersama anak-anak saya.

Beberapa hari saya sempat malas menulis lagi, hingga masuk email dari James Athur Ray. Quote yang berisi bahwa kita jangan merasa sukses hanya dengan satu kesuksesan dan jangan patah semangat hanya karena gagal. Sama halnya dengan konsep Hadist yang menyebutkan “ kejarlah duniamu seakan engkau akan hidup seribu tahun lagi, dan janganlah lupa akhiratmu seakan engkau akan mati esok.”

Sekarang saatnya saya menulis lagi agar buku kedua dan ketiga bisa terbit tahun depan dan niat saya akan membuat peluncuran buku yang akan mengundang anak-anak yang terlantar.

Hartati Nurwijaya from Megara, Greecehttp://sumatra-bali-hartatinurwijaya.blogspot.com/http://perkawinan-antarbangsa-loveshock.blogspot.com/

Senin, 03 Desember 2007

Lanjutan

Peluncuran buku pertama di Blizt Megaplex, satu hari sebelumnya saya dibawa oleh EO ke lokasi. Kami membincangkan bagaimana letak susunan bangku dan bagaimana lay out ruangan.

Beberapa hari sebelumnya saya berpikir akan memakai pakaian daerah Minang, berupa baju kurung. Ternyata harga sewanya cukup mahal dan tidak ada waktu mencari baju ke toko. Sampai di gedung Blizt jam 11 pagi dan sponsor make up artist sudah hadir dan membawa baju kebaya.

Baju kebayanya agak kesempitan dan long torsonya juga sempit, akhirnya saya agak ‘risi’ juga. But the show must go on, sudah tidak ada waktu ganti baju lagi. Tapi saat ini baru terlintas kenapa tidak beli baju di mal bawah, mungkin ada baju yang cocok dan harganya tidak mahal.

Acara agak molor sebab menanti kedatangan pembicara Bapak Rosihan Anwar. Seharusnya acara sudah dimulai tepat jam 14.00. Buku yang saya nantikan hingga begadang ( jam 1.00 dini hari buku tercetak) di Ciracas ternyata banyak yang salah cetak. Gambar diagram buram dan ada beberapa kesalahan lainnya.

Suparno Pramudya: Manager BDD CV Restu Agung telah membantu semaksimal mungkin, bahkan ia pulang petang hari ke rumahnya naik bis dari Ciracas. Akibat langkahnya membawa kami ke percetakan, ia ditegur oleh pemilik penerbit Restu Agung; Albert David. Suparno Pramudya juga menjelaskan bahwa buku akan dicetak sebanyak 3000 ekslemplar dan sebelum kembali ke Yunani isi SPP ( Surat Perjanjian Penerbitan) yang sebelumnya ditulis 2000 diganti menjadi 3000 buku yang dibayarkan royaltinya.

Diputuskan agar buku tidak dijual, sebab saya ingat YLKI ( Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia). Jual produk harus yang baik dan tidak cacat. Namun akhirnya banyak peserta diskusi yang hadir mendesak agar mendapatkan bukunya. Walapun, sudah dijelaskan bahwa bukunya ada beberapa gambar yang buram.

Acara dibuka dengan menyanyikan bersama lagu Indonesia Raya dan langsung dapat dirijennya teman dari milis penulis bestseller; Mario Einstein. Semua peserta dan hadirin khusuk menyanyikan lagu kebangsaan.

Lalu diikuti pembacaan Sumpah Pemuda oleh Ramya Soekardi, seorang penulis cilik teman dari http://www.goodreads.com/. Ramya adalah cucu dari Bapak Asma Subrata; mantan Direktur TVRI.

Moderator Boby Lukman kurang persiapan sehingga ia tidak tahu nama lengkap pembicara. Hal ini mungkin akibat kesibukan kami dan fokus terpaku pada masalah buku yang sangat disesalkan tidak dapat dijual ketika launching di Blizt ketika itu. EO tampak kecewa, sebab pengunjung yang paling banyak datang adalah di Blizt. Ada 600 orang pengunjung yang datang.

Acara berlangsung lancar, Rosihan Anwar berkisah sejarah Sumpah Pemuda. Beliau juga menyindir mengenai pembangunan gedung raksasa yang banyak di Indonesia tetapi pemiliknya adalah orang asing.

Dikatakan juga oleh beliau, penulis buku tidak bisa mencukupi hidup. Beliau sudah menulis 40 buku lebih, dan kebanyakan rejekinya datang dari hasil menulis untuk media massa. Disarankannya penulis agar menulis artikel untuk koran, majalah dan tabloid sebagai tambahan penghasilan.

Amaliya Lerrigo pembicara dari Srikandi, tampil sangat anggun dan berwibawa. Banyak sekali info-info yang beliau paparkan dan berbagi ke hadirin yang datang ke Blizt pada hari itu.

Dari LBH APIK, Estu Fanani tampil sederhana dan khas ciri dari NGO. Banyak pertanyaan seputar hukum yang dilontarkan oleh hadirin, dan Estu dapat menjawabnya dengan lugas dan tangkas.

Ries Woodhouse tampil sederhana, tidak menampakkan bahwa ia seorang istri yang suaminya pernah memimpin UNICEF dan penerima Bintang Mahaputra dan Bintang Kehormatan dari Ratu Inggris. Figur yang ramah dan sangat peduli pada nasib para perempuan yang mempunyai pasangan orang asing.

Ries juga membantu saya melakukan perjalanan ke Sumatra Barat. Kami berdua sebagai pembicara di Fakultas Sastra Universitas Andalas Padang.

Beberapa pertanyaan dilontarkan oleh hadirin, antara lain mengenai……..

Acara di Blizt ternyata diliput oleh Detik.com dan inilah tulisan tersebut
http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/10/tgl/28/time/235831/idnews/845799/idkanal/10

Diliput oleh The Jakarta Post
http://www.thejakartapost.com/yesterdaydetail.asp?fileid=20071119.D07

Selasa, 27 November 2007

Perjalanan Yunani-Jakarta

"Try not to become a man of success but rather try to become a man of value." -- Albert Einstein

Jika Anda pernah membaca artikel saya beberapa waktu lalu di milis penulis bestseller berjudul “Long and Winding Road”, nah tulisan kali ini merupakan lanjutannya.

Ketika saya mengirim naskah ke penerbit besar belum mendapat jawaban maka akhirnya saya putuskan untuk mengirim ke penerbit kecil. Restu Agung; penerbit yang berada di Jakarta menerima naskah saya hanya dalam waktu 2 minggu sudah diterima.

Setelah naskah diterima saya ingin cepat menjadi buku. Buku yang ingin dilihat dan dibaca oleh salah seorang kontributor yang terus memberi dukungan. Kindeng namanya yang juga memperkenalkan saya dengan artis Jajang C Noer.

Jajang C Noer yang menulis kata pengantar di buku pertama saya ini.

Hal pertama yang saya pikirkan dari sebuah buku adalah covernya. Saya meminta suami membuat design cover buku, membuat diagram ke dalam bahasa Indonesia yang telah diberi izin oleh pembuat aslinya. Suami tampak “ogah-ogahan” ketika diminta membuat design sesuai keinginan saya.

Membuat design cover sangat penting, sebab hasil riset pasar banyak pembeli melirik buku dari bentuk covernya. Riset cover saya pelajari dari sebuah toko buku di dunia maya: www.amazon.com.

Naskah buku pertama saya (Perkawinan Antarbangsa: LOve and ShOck) ditulis oleh para wanita.
Nah bagaimana agar buku ini tidak mencerminkan sebagai buku “cewek”?
Jadilah saya berpikir agar cover tidak “berbau” wanita. Cover saya ciptakan sebagai buku serius dan tidak segmented. Saya ingin buku ini dibaca oleh semua kalangan, semua lapisan masyarakat di dunia ini.

Hasilnya memang tampak cover sebagai buku ilmiah, walaupun warna cover kurang terang seperti yang saya harapkan. Saya sebelumnya meminta agar warna BBC World dipakai. Ketika saya riset pasar di Jakarta, tampak sebuah buku yang telah lebih dahulu cetak dengan design warna cover yang hampir sama, hanya beda buku saya diatas warnanya lebih gelap.

Ada beberapa kali ide cover dari pihak penerbit yang saya tolak sebab gambar cover sangat berbau wanita. Misalnya; ada gambar bunga mawar, ada gambar pengantin dan bahkan gambar hati yang dipanah.

Setelah setuju dengan cover, seharusnya isi dari layout buku selayaknya diperlihatkan pada penulis. Namun akibat kejar tayang dan buku harus jadi sebelum tanggal 28 Oktober 2007, akhirnya saya tidak menerima ‘dummy”.

Saya tiba di Jakarta tanggal 25 Oktober 2007 malam hari. Keesokannmya langsung bertemu EO ( Event Organizer) dan penerbit.

Sejak beberapa bulan yang lalu sudah dipersiapkan bagaimana bentuk promosi buku pertama saya ini. Ide yang terlintas adalah di Universitas; tempat dimana banyak anak muda berkumpul.Mau tidak mau saya membutuhkan EO yang bersedia mengatur segala acara, sebab jarak yang jauh antara Yunani dan Indonesia tidak memungkinkan saya bergerak mencarai sponsor sendiri dan mengatur segala sesuatunya.Mencari EO susah-susah gampang, ada EO yang sudah beken ternyata tidak tertarik melakukan peluncuran buku. Akhirnya bertemulah dengan seorang anak muda di internet yang punya jiwa seni tinggi. EO Evonica namanya yang dimotori oleh Yurskie.Ia bersedia menerima tawaran kerjasama, tanpa imbalan uang cash. Saya hanya menawarkan hasil penjualan buku dari nilai diskon yang diberikan oleh penerbit. Penerbit Restu Agung tidak memberi bantuan dana promosi sepeser-pun sesuai dengan isi perjanjian di SPP (Surat Perjanjian Penerbitan).

Karena berkenalan di internet, maka komunikasi makin lancar, setiap hari saya chatting dengan EO. Chatting untuk mengarahkan dan memberi tahu harus kemana mencari sponsor. Sayang, waktu yang sempit merupakan kendala utama. EO tidak bisa bergerak mencari dana. Saat itu bulan Ramadhan dan beberapa perusahaan sulit untuk memberi keputusan sebagai sponsor dalam waktu singkat.

Yurie yang biasa menangani “Band” dengan mudah bisa masuk ke kampus-kampus. Dua bulan sebelumnya melalui pendekatan personal, saya minta ijin pada Dekan Fakultas Sastra Universitas Andalas Padang untuk acara diskusi buku.

Ijin dan respon dari beberapa universitas didapatkan. Masalah tempat teratasi. Sekarang bagaimana membuat sebuah event yang besar?
Datanglah ide dari EO agar acara diadakan di Blizt Megaplex. Saya baru dengar nama Blizt dan langsung melakukan search. Tampak di layer monitor Blizt ternyata tempat anak muda nongkrong juga. Blizt adalah bioskop dan tampak modern. Saya sangat antusias melihatnya, maklum di tempat saya tinggal tidak ada gedung bioskopnya.

Tempat peluncuran awal sudah didapatkan. Kemudian masalah membayar Blizt. Yurie yang kenal dengan salah seorang supervisor Blizt Jakarta mulai melakukan pendekatan pribadi. Ia minta tolong bantuan agar dapat menggunakan Blizt dan diberi harga diskon. Usahanya berhasil, kami dapat tempat di Blizt tepat sesuai keinginan yaitu tepat pada hari Sumpah Pemuda.

Ide awal hanya untuk peluncuran buku, langsung saya ganti konsepnya menjadi Perayaan Sumpah Pemuda. Dalam hati saya ingin memberi sesuatu pada negeri tercinta, saya membaca isi Sumpah Pemuda dan terharu mengenang negeri nan jauh di mata. Tekad semakin bulat agar acara lebih fokus pada Sumpah Pemuda.

Akibat sudah sering chatting dan diskusi melalu telepon ketika pertama kali bertemu Yurie, sudah langsung akrab. Setelah bertemu kami langsung menuju ke penerbit di daerah Kwitang.

Di kantor penerbit sudah ada pemiliknya dan manager BDD-nya. Setelah basa-basi langsung saya menandatangai surat kontrak (SPP). Isi SPP bahwa buku dicetak 2000 ekslemplar dan judul buku masih memakai judul lama.

Selain cover judul merupakan “paru-paru” dari sebuah buku. Buku perdana ini, sudah mengalami beberapa kali ganti judul. Dari mulai judul “Suamiku Bule”, “Ketika Timur Bertemu Barat” dan “ Bagaimana Sih Punya Suami Asing?”. Hingga pada saat terakhir buku hendak dicetak, saya tiba-tiba mendapat ide judulnya menjadi “ Perkawinan Antarbangsa; LOve and ShOck”. Sengaja saya ingin huruf O ditulis besar agar semua yang melihat dan membaca bukunya akan berkata “ O o o o begitu ya..”.

Proses pemberian judul sebuah buku memang hak penerbit, tetapi sebagai penulis kita harus punya ide sendiri. Penulis harus rajin melakukan riset sendiri. Dari hasil riset; saya berkesimpulan bahwa pangsa pasar anak muda suka dengan nama yang berbau asing. Mulai film yang berjudul “Eiffel in Love” hingga “I beg you Prada” sangat populer di kalangan masyarakat Indonesia. Jadilah “Love and Shock” judul yang mantap dipilih.





Bersambung