Kamis, 19 November 2009

No More Complaints


Bersyukur saya dapat menonton KICK ANDY kemarin melalui internet. Saya salut pada acara tersebut bisa menandingi acara Oprah, walau digelar secara sederhana dan tidak semewah Oprah yang kaya raya. Bahkan diakhir acara dapat membagikan hadiah.

Inti yang saya ambil dari acara tsb adalah apa yang ditampilkan oleh Kick Andy adalah tipe manusia Indonesia yang pantang menyerah, pejuang, tidak suka mengeluh. Bahkan orang-orang sederhana yang tidak suka pamer alias show off dan rendah hati. Pantas saja acara ini banyak digemari pemirsa. Andai saja para orang tua mewajibkan anak-anaknya menonton Kick Andy yang temanya sesuai dengan usia anak dan remaja, maka negeri ini tidak akan menumbuhkan generasi ala sinetron. Generasi sinetron yang cengeng, suka intrik, cemburu, iri hati dan dendam , pemalas dan suka pamer kekayaan orangtua.
Saya tidak tahu apakah ada acara ulangan untuk Kick Andy di teve. Akan lebih baik jika sebelum acara disiarkan sudah ditayangkan iklan tema apa yang akan ditampilkan oleh Kick Andy. Seperti iklan sinetron yang sering ditayangkan berulang-ulang di layar kaca, hingga menjadi brain wash anak-anak dan remaja Indonesia.

Agar tulisan ini tidak bersifat mengeluh, maka saya akan menulis mengenai rasa syukur bahwa masih ada yang peduli pada moral dan kelangsungan hidup bangsa kita. Saya bersyukur disamping munculnya film box office 2012 masih ada film Emak Ingin Naik Haji. Disamping semakin banyaknya korban akibat flu babi dan penyakit menular lainnya yang muncul di dunia ini, bangsa Indonesia di tanah air tercinta tidak terdengar ada kasus terkena flu babi.

Masih banyak rasa syukur yang faktanya saya bisa lihat sehari-hari dari Yunani. Misalnya saja bulan Nopember ini adalah musim panen zaitun, tentu tidak ada pohon zaitun di Indonesia. Tetapi di tanah air terdapat banyak sekali buah dan sayuran yang khasiatnya melebihi buah dan minyak zaitun. Memang diperlukan hal-hal kecil yang kita lihat sehari-hari agar setiap saat hidup ini selalu bersyukur dan bukannya mengeluh dan cemooh.

Sabtu, 07 November 2009

Kontra Vaksin Flu Babi

Pro dan kontra masalah vaksin tidak saja terjadi di negara sedang b erkembang dan maju. Timbulnya penyakit baru seperti flu babi dan flu burung sebelumnya cukup membuat was-was kita semua. Saya masih ingat ketika wabah flu burung menelan korban banyak jiwa orang Indonesia, para turis dari manca negara banyak yang ngeri datang ke Indonesia. Bahkan saya ketika itu meminta nasihat dokter di Yunani apakah aman jika bepergian pulang ke kampung halaman saya yang sedang mewabah flu burung. Dokter mengizinkan dan memberikan saya suntika vaksin flu biasa. Saya berangkat pulang ke Jakarta dan kembali ke Yunani dengan sehat wal’afiat.

Tahun 2009 ini dunia heboh dengan berjatuhannya korban flu babi di negara USA dan Mexico yang disebut-sebut sebagai asal-usul berkembang biaknya virus H1N1 (Flu babi). Merambah cepat hingga korban ribuan penderita di UK (Inggris). Di Yunani juga akhirnya ditemukan banyak korban penderita flu babi ini.

Ketakutan para ahli dan masyarakat akan merebaknya virus ini di musim dingin semakin terbukti. Jangankan sebelum munculnya virus flu babi, biasanya di musim dingin sudah menjadi langganan banyak anak-anak, remaja, orang dewasa hingga lansia yang terserang flu biasa. Tuhan juga adil, di musim dingin di negara Eropa musim buah, adalah buah jeruk yang banyak mengandung vitamin C selain buah kiwi.

Mengantisipasi semakin merebaknya flu babi yang dissebut oleh oleh media massa dan departemen kesehatan di Yunani, sebagai flu baru, pemerintah memberikan layanan vaksin flu babi secara gratis di rumah sakit untuk para balita dan lansia dimulai bulan Nopember 2009 ini. Namun tidak semua ahli kesehatan dan dokter yang setuju untuk memberikan vaksin flu babi untuk anak-anak dan orang dewasa yang sehat. Sebab ditemukan beberapa alasannya sebagai berikut:

A. Sejak munculnya vaksin Flu babi ini, WHO sendiri tidak memberikan jaminan 100% akan keamanan vaksin ini.

Para peneliti memperingatkan bahwa penggunaan berlebihan dari vaksin flu dan anti-flu Tamiflu dan obat-obatan seperti Relenza dapat menyebabkan tekanan genetik pada virus flu dan kemudian mereka lebih cenderung bermutasi menjadi strain yang lebih mematikan.
Kebanyakan influenza A musiman (H1N1) strain virus diuji dari Amerika Serikat dan negara-negara lain sekarang resisten terhadap Tamiflu (oseltamivir). Tamiflu telah menjadi obat yang hampir tidak berguna melawan flu musiman.
Para pejabat kesehatan masyarakat dan pemerintah di negara USA dan Eropa tidak memperkenalkan cara untuk memperkuat kekebalan tubuh terhadap flu. Seolah-olah tidak ada pilihan lain di luar vaksin dan obat anti-flu yang ditawarkan, walaupun ada bukti kuat bahwa vitamin C dan D mengaktifkan sistem kekebalan tubuh serta mineral selenium mencegah pemberukan virus dan menghindari tubuh dari penyakit.
B. Ditemukannya ada beberapa orang yang sehat, setelah diberikan vaksin flu babi, dia menjadi lumpuh. Oleh beberapa ahli disebut kasus ini hanya terjadi sedikit saja diantara ribuan orang yang telah diberikan vaksin.

Jika saya boleh berpendapat, vaksin itu ada yang bermanfaat dan juga ada yang bisa membawa mudarat. Saya sendiri memberikan vaksin teratur pada anak-anak saya sejak bayi hingga kini balita. Karena dokter anak di Yunani dan pemerintah menetapkan peraturan wajib vaksin bagi anak-anak. Bahkan anak yang masuk sekolah harus menunjukkan buku kesehatannya. Yang dilihat adalah daftar vaksin anak.

Sedangkan anjuran untuk melakukan vaksin flu biasa, sudah dilakukan jauh hari sebelum terjadi wabah flu babi terjadi di Yunani. Untuk vaksin flu babi, kami memutuskan untuk tidak diberikan pada anak-anak kami. Saya sendiri, sejak kecil tidak pernah disuntik vaksin. Seingat saya kedua orang tua saya memberikan kami banyak asupan buah-buahan yang sehat dan bebas bahan kimia. Karena masa kecil saya kami tinggal di daerah Merbau Labuhan Batu Sumatra Utara; yang banyak terdapat banyak kebun buah dan pohon yang hidup alamiah tanpa semprotan hama dan pupuk. Ketahanan tubuh dan kekebalan tubuh otomatis akan terbentuk dari asupan makanan dan aktifitas badan sehari-hari. Banyak bergerak dan olah raga serta menjaga kebersihan badan.

Semoga saja wabah flu babi di musim dingin ini tidak akan merebak hingga ke Megara tempat kami tinggal. Sebab di Athena sudah beberapa sekolah yang ditutup untuk mengurangi korban flu babi ini.

Rabu, 28 Oktober 2009

Satu Buku untuk Satu Tahun

Alhamdulillah sejak 2007 buku yang saya tulis terbit setiap tahunnya. Bak kata pepatah 'ala bisa karena biasa". Buku ketiga saya ini ditulis beramai-ramai. Buku yang ditulis beramai lebih enak dibaca ketimbang oleh seorang penulis. Saya bertekad untuk buku yang akan terbit tahun depan, insyaAllah saya bersolo karir menulis sendiri.

Mudahnya menulis sendiri adalah kalimat dan gaya bahasanya seragam dan punya ciri khas tertentu. Istilahnya made in, mirip baju yang dibuat oleh seorang perancang yang punya ciri khas tersendiri dan kelas tersendiri. Buku juga demikian, jika menulis buku isinya monoton dan kurang menarik pembaca tentu akan membuat kecewa pembelinya. Karena itulah saya menulis sambil membayangkan bagaimana respon pembaca saat membaca buku yang sedang saya tulis. Intinya saya menulis setiap kalimat agar pembaca tidak bosan, menarik dan membuat penasaran hingga ingin melalap habis setiap halaman hingga tamat.


Memang tak mudah menulis sesuai keinginan pembaca, untuk itu saya selalu berkaca pada diri sendiri. Apa yang saya sukai saya tulis dan gaya tulisan yang tidak saya sukai maka tidak akan saya tulis. Pengalaman hidup diri sendiri akan selalu menarik perhatian orang lain. Orang selalu ingin tahu tentang diri orang lain. Untuk itu saya selalu menulis berdasarkan pengalaman hidup saya sehari-hari. bahkan peristiwa kecil bisa menjadi kisah yang panjang dan menarik.

Seperti kisah di bawah ini misalnya:

28 Oktober di Indonesia diperingati sebagai hari sumpah pemuda. Sedangkan di Yunani diperingati sebagai hari nasional, hampir mirip perayaan hari Kemerdekaannya. 28 Oktober di Yunani adalah hari OXI artinya Hari TIDAK. Tidak maksudnya adalah perjuangan bangsa Yunani dengan berani mengatakan TIDAK pada pasukan Italia yang dipimpin oleh Mussolini yang ingin menjarah Yunani. Musslolini adalah pemimpin Italia yang berideologi fasisme.

Perayaan 28 Oktober di Yunani, ditandai dengan parelasi atau pawai oleh semua anak sekolah, dari anak-anak play grup hingga ke jenjang universitas. Juga polisi dan pasukan pemadam kebakaran dan setiap lembaga apa saja yang bersedia pawai meramaikan perayaan hari OXI ini.

Pawai sekolah selalu berurutan sesuai nomor sekolah, misal SD nomor 1 maka SD tersebut mendapat giliran lebih dahulu maju. Setiap pawai dikepalai oleh seorang anak yang membawa bendera Yunani. Memilih anak yang membawa bendera sudah ditetapkan secara nasional, bahwa anak yang mendapat nilai tertinggi dan duduk di kelas tertinggi dia yang akan membawa bendera.

Hingga menjadi suatu kebanggaan orang tua jika anaknya membawa bendera Yunani. Namun hal ini tidak berlaku untuk anak keturunan asing. Tahun 2006 terjadi protes besar-besaran akibat seorang murid keturunan Albania mendapat nilai tertinggi di kelas 6 SD dan dia dipilih membawa bendera Yunani. Sejak protes itu, maka tidak pernah lagi terjadi seorang anak keturunan asing mendapat nilai tertinggi.

Hal tersebut menimpa diri putri saya Aisyah. Aisyah selalu mendapat nilai 10 untuk setiap mata pelajaran dan ujian hasilnya 10. Semua orang tua pasti mengetahui hasil ujian sebab kertas ujian harus ditanda-tangani oleh orang tua dan dikembalikan ke guru. Aisyah cerdas alami, padahal dia tidak pernah saya kirim ke kursus atau les seperti anak-anak asli Yunani yang mengirim anak-anak mereka ke lembaga bimbingan belajar bahasa, matematika dll. Aisyah pintar karena dia anak yang punya gen MCV (baca buku Love and Shock). Anak hasil perkawinan antarbangsa punya kecerdasan diatas rata-rata.

Menghindari Aisyah yang bawa bendera Yunani, maka dua hari sebelum parelasi (pawai) Kiria Dora mengumumkan bahwa Thanasis-lah juara 1 di kelas 6 SD tersebut. Dan Aisyah juara 2, Katerina juara 3, Marillena juara 4 dstnya. Sebab 6 anak yang memimpin pawai, tiga di depan dan 3 di belakang, kemudian diikuti oleh anak-anak lainnya seluruh kelas dan kelas 5 serta 4.

Saya terima dengan senang hati, walau sempat saya tidak mengizinkan Aisyah ikut pawai berhubung saya tidak suka anak saya turut dalam keramaian dan pesta-pesta orang Yunani. Setelah Aisyah menerangkan bahwa dia wajib ikut sebab dia termasuk jajaran anak yang 6 maka mau tak mau saya harus mengizinkannya ikut pawai. Baju yang dipakai pawai adalah mirip seragam SMP yang dipakai pelajar Indonesia.

Saat detik-detik saya menunggu Aisyah melewati pawai, ada rasa haru dalam hati saya. Saya hampir sempat menangis karena haru. Dia berjalan di barisan terdepan di sebelah kanan Thanasis pembawa bendera. Adiknya si Abang yang tidak mau ikut pawai, memanggil nama Kakaknya "Aisyah! Aisyaaah!...."
Seketika Aisyah menoleh melihat kami hingga dia salah dalam melangkah. Si bungsu Hadi juga ikut pawai memakai baju kemeja putih, topi red barret dan dasi merah. Sayang kami tidak membeli dasi buat Hadi, dia pawai tanpa dasi.

Minggu, 06 September 2009

Nasib Nelayan Tradisional Yang Tak Menentu


Banyak kita sudah membaca kepahitan hidup nelayan Indonesia. Dari Sabang hingga Merauke nasib para nelayan tidak berubah. Jika saya boleh berpendapat profesi nelayan identik dengan kemiskinan absolut.

Di bawah ini saya kutip kisah seorang nelayan asal Aceh dari blog Masriadi Sambo.
DHEBIT Desliana, sibuk membenahi perahu miliknya di Desa Kampung Jawa, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe. Saban minggu, nelayan yang menggunakan ketek ini, terpaksa memperbaiki perahu miliknya.


Dia sudah mengusulkan bantuan pada Dinas Perikanan Kota Lhokseumawe, 28 November 2007 dengan nomor register proposal 250/01/KB/H65/2007. Awalnya, disebutkan akan mendapat bantuan tahun 2008. Namun, hingga kini bantuan itu tak kunjung datang.

Dalam salah satu berita di www.kabarindonesia.com pernah ditulis nasib nelayan Banten yang menunggu bantuan yang kabarnya akan diberikan oleh SET NET Jepang untuk mendongkrak hasil tangkapan nelayan. Namun hingga kini janji itu belum ditepati.

Kemudian saya kembali dikejutkan dengan rencana pengaplingan wilayah kelautan Indonesia. Seperti yang diberikan dalam Kompas online.

Terlepas apakah ini sudah dirancang jauh hari sebelum kemenangan Budiyono sebagai Wapres RI. Jelas rencana edan ini sangat-sangat Neolib. Nelayan tradisionil yang sudah terjerat rentenir, nelayan yang hanya melaut menggunakan kapal milik orang lain yang biasa disebut "Tuan Kapal". Nelayan tradisionil yang hanya menggunakan ketek dan perahu sederhana meyabung nyawa demi memenuhi kebutuhan keluarganya, akan semakin terpinggirkan oleh Pengaplingan Laut ini.

Bisa dibayangkan bagaimana semakin terpuruknya kehidupan nelayan, jika mereka baru saja melepas jala harus diusir dan bahkan kemungkinan ditangkap oleh patroli. Sebab belum mendapatkan hasil tangkapan, akibat menggunakan peralatan yang sederhana. Jika dibandingkan dengan pengusaha Jepang, Korea dan pengusaha Indonesia dll yang akan mendapat HPL (Hak Penggunaan Laut).

Semoga saja para wakil rakyat dan pemimpin negeri ini menyadari dosa dan kesalahan mereka. Sebelum membuat dosa lebih banyak lagi terhadap bangsa, rakyat dan negara tercinta Indonesia.



Pengaplingan Laut Mulai 2010

Hak Nelayan Tradisional Terancam

Sabtu, 8 Agustus 2009 | 03:59 WIB



Jakarta, Kompas - Pemerintah berencana melakukan pembagian zona
perairan mulai tahun 2010. Membagi perairan menjadi kapling-kapling itu
menjadi landasan untuk pemberlakuan hak pengusahaan perairan pesisir,
serta kluster perikanan tangkap.



Sekretaris Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir, dan Pulau-pulau Kecil
(KP3K) Departemen Kelautan dan Perikanan Sudirman Saad, Jumat (7/8) di
Jakarta, mengemukakan, pihaknya akan memfasilitasi 20 kabupaten/kota
untuk menyusun rencana pembagian zona perairan mulai tahun 2010.
β€Zonasi perairan menjamin adanya perencanaan dalam pemanfaatan
perairan, selain memberi kepastian bagi pelaku usaha, termasuk nelayan
tradisional,β€ ujar Sudirman.



Menanggapi rencana itu, perwakilan masyarakat hukum adat, nelayan
tradisional, masyarakat pesisir, dan perempuan nelayan menandatangani
deklarasi β€Pernyataan Lombokβ€ 5 Agustus, yang menuntut rencana
pemberlakuan hak pengusahaan perairan pesisir (HP3) dan kluster
perikanan tangkap dihentikan. Hal itu dinilai akan menciptakan
privatisasi, monopoli, dan liberalisasi sumber daya kelautan dan
pesisir.
Mereka yang menandatangani deklarasi, antara lain, adalah Koalisi
Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA), Komite Pengelolaan Perikanan
Laut Lombok Timur, Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI), dan
Serikat Nelayan Indonesia.



Menurut Sudirman, pembagian zona perairan ditetapkan melalui peraturan
daerah guna mendorong transparansi dan akuntabilitas publik. Penetapan
pembagian zona wajib mengakomodasi kepentingan pelaku usaha, nelayan
tradisional dan masyarakat pesisir.



Dengan pembagian zona itu, wilayah laut dibagi menjadi empat bagian,
yakni kawasan pemanfaatan umum, kawasan konservasi, kawasan nasional
strategis tertentu, dan alur pelayaran.



Penetapan pembagian zona perairan juga menjadi landasan bagi
pembentukan kluster usaha perikanan tangkap dalam alur perairan hingga
sepanjang 12 mil. Kluster usaha perikanan tangkap akan diterapkan tahun
2010 dengan uji coba di Laut Arafura dan Laut China Selatan.

Kluster itu memberikan hak eksklusif kepada pihak-pihak tertentu untuk
memanfaatkan sumber daya ikan di perairan.



Menurut Koordinator KIARA Abdul Halim, pembentukan HP3 dan kluster
perikanan tangkap bukti bahwa pengelolaan perairan hanya dipandang
sebagai ruang untuk mencari nafkah. Namun, mengabaikan laut sebagai
identitas budaya bangsa dan jalan hidup masyarakat adat dan pesisir
secara turun-temurun.



β€Tidak ada jaminan bahwa kepentingan masyarakat adat dan nelayan tradisional
akan diprioritaskan,β€ ujar Halim. (LKT)

Kamis, 06 Agustus 2009

A Chapter That Was Painful to Read

Wed, 05 August 2009
Jihad el-Khazen
What is in common between the two books “Kill Khalid” and “Zionism, the real enemy of the Jews”?

Of course, there is the obvious political common feature of being related to the Palestinian-Israeli conflict. However, what quickly caught my attention in the two books was this: while I was reading an article written by Alan Hart - the author of the second book - in which he complains about not being able to publish his book in the United States, I received a letter from Brother Naim Atallah, the chairman of Quartet Books (publisher of the book about the assassination attempt against Khalid Mishal). In the letter, Mr. Atallah similarly complained about how the British media ignored the book, with the latter only receiving two reviews in the British Press (Al-Hayat in London, however, dedicated a decent space for a review of the book, written by colleague Susannah Tarbush.)

I would like to extend my gratitude to Brother Naim for informing me about this issue. In fact, I had been noticed of the book’s release, but did not order it, believing that there would be nothing in it I do not already know about the assassination attempt against Abu al-Walid, or about Hamas, its roots and its policies. Actually, I meet with the head of Hamas’s Political Bureau quite often, and he is not stingy with the information that he gives me.

Kill Khalid was written by Paul McGeogh, a prominent Australian journalist and a genuine award-winning expert on the Middle East, and particularly the Palestinian issue.

I want to admit here that the book has in fact enriched my knowledge about the subject, which means that the non-specialized reader will benefit even more.

On 25/9/1997, Mr. Khalid Mishal suffered an assassination attempt, through the use of chemical toxins, as he was entering his office in Amman. The chapter narrating the attempt reads more like a mystery novel, with Abu Saif, Abu al-Walid’s bodyguard, chasing two Israeli spies, and then engaging in hand combat with one then the other. He was then joined by Saad Naeem al-Khatib, an officer in the liberation army, who witnessed the chase and eventually managed to capture the Mossad agents.

We all know that following these events, King Hussein threatened to execute the Israeli spies if Netanyahu’s government did not send the antidote. The book explains the mediation role played by the Americans in this issue, and how the Israelis relented in the end, and Abu al-Walid survived. Nonetheless, the book includes very precise details, and I consider it to be a historical reference in its subject matter, since it is documented and corroborated by parties directly involved in the attempt.

On the other hand, there was a chapter in the book that was painful to read, concerning the conflict between Hamas and Fatah in the Gaza Strip, which ended with Hamas taking control of the sector in June 2007. In the book, the author takes Hamas’s side, and reveals that Fatah received four or five arm shipments on the eve of the confrontation. He also revealed that the Americans were siding with Fatah, since it was to them the sole recognized and legitimate authority, according to Keith Dayton’s testimony before the Committee on the Middle East and South Asia - a subcommittee of the US House of Representatives Committee on Foreign Affairs.

Meanwhile, the details of the fighting recounted in the book include names and precise locations, especially about the sombre day of the 6th of October, when tens of Palestinians were killed at the hands of their brethren. If there is anything worth noting here, it would be the absence of Mohammed Dahlan from the Gaza Strip, and his ineffectiveness in the battles evident from the fighting. In this vein, McGeogh mentions that in the end, Hamas issued a general pardon, but it was one that excluded Mohammed Dahlan. This corroborates what I had heard from Brother Khalid Mishal and Dr. Ramadan Shallah, and the other leaders of Hamas and Islamic Jihad, that there is “bad blood between us” [i.e. Hamas and Dahlan]

As for Alan Hart, the author of the above mentioned book on Zionism, he is a Briton, and is one of the highest calibre experts on the Middle East. He was the correspondent of the BBC and the ITN television in the region, and his sources of information are innumerable and unparalleled. Two volumes of his book on his Zionism have already been published, while the third is already in the works.

In the book, Hart makes the distinction between Zionism as a Jewish identity or political Zionism on one hand, and religious Zionism on the other. Hart says that the tragic irony is that half a century after the Holocaust, anti-Semitism is now on the rise in Europe and America, and that the reason behind is the actions of Israel, the daughter of political Zionism, and the place of residence of a minority of the Jews of the world. Furthermore, the author considers political Zionism to be a colonial project, while he believes that by its abuse of the Palestinians, Israel is actually fuelling anti-Semitism around the world.

Hart did not find a publishing house that would publish his book, and thus founded his own in Britain to publish it. In fact, he mentioned two reasons why this happened despite his professional reputation: the first reason was the publishers’ fear of reprisal by the Zionists, and possibly losing advertisements and endorsements, while the second reason was that Hart’s peer journalists did not want to be accused of anti-Semitism, should they express views in favour of the book.

Personally, I found useful information in every single page of the book, such as the author’s narration of how Abraham Feinberg, the father of the Israeli nuclear bomb, financed Lyndon Johnson’s campaign in the elections. It should be mentioned here that I had written in this column once about the story of Lyndon Johnson’s Jewish mistress, Mathilde Krim, in the White House, on the day the 1967 war started.

The whole book is worth reading, as it is a sea of precious information. Chapter 41 for instance, is rich with details about the conspiring of Ariel Sharon, the ignorance of George W. Bush, the story of the reoccupation of Palestinian cities, and how the attempt to topple Abu Ammar took place, in addition to details about Abu Mazen’s ascent to the post of prime minister in the summer of 2003. Nevertheless, I want to say that the latter did not forfeit any Palestinian rights, nor did he ever compromise.

In any case, I believe that the history of conspiracy, terrorism and extremism is repeating itself today with Benjamin Netanyahu and his gang. Most likely, we will not learn the lessons of the recent past in order to deal with the present.

I shall continue tomorrow

Sabtu, 25 Juli 2009

Semakin Aku Bersyukur


Sudah lama blog ini tidak di up-date. Karena keasyikan menulis note di FB. Hingga blog indah ini yang membawa sejarah perjalanan diri ini menjadi penulis sempat terabaikan.

Sabtu 25 Juli 2009 beberapa menit lagi akan berubah menjadi tanggal 26 Juli 2009. Hari ini pengalaman hidup saya bertambah lagi. Sejak pagi suami sudah pergi menyelesaikan pesanan pelanggan. Walau Sabtu kantornya libur, dia tidak libur tetapi tetap bekerja sampingan untuk mencukupi kebutuhan hidup kami. Saya dan si bungsu Hadi mendatanginya ke tempat dia bekerja memotong besi-besi untuk dijadikan nama toko dari pelanggannya.

Benar-benar pekerjaan yang berat, menggunakan alat pemotong besi yang menimbulkan percikan api. Tinggi tiang penyangga besi yang beratnya hampir 150 kg. Kerja keras yang sesuai dengan imbalan jasanya. Harga orderan senilai 2000 euro.

Hanya beberapa menit saja kami melihat Baba bekerja. Saya dan Hadi lalu belanja ke supermarket. Hadi ingin jagung bakar. Saya melihat harga jagung di supermarket 3 buah 1 euro 80 cent. Sedangkan jagung bakar yang dijual oleh pedagang di pinggir jalan satu buah 2 euro hingga 2 euro 50 cent. Saya meras bersyukur dapat diberi kesempatan membuat jagung bakar sendiri.

Sambil membakar jagung di dapur saya mulai menghubungi teman di FB untuk membantu menyumbang kisah seputar pasangan yang bercerai. Setelah naskah buku Bahaya Alkohol dan Cara Mengatasi Kecanduannya akan diterbitkan oleh Elex Media Gramedia, maka kali ini saya sangat tertarik untuk menulis buku CERAI. Saya suka menulis buku yang masih jarang dipasaran di Indonesia. Kalau buku tentang poligami sudah banyak beredar.

Seorang teman yang suaminya warga Pakistan dengan cepat merespon saya, dia memberikan jawaban atas permintaan sebuah kisah tentang cerai. Saya langsung baca kisahnya, dan jiwa ini serasa bergetar (mirip lag Ebiet G Ade). Kisahnya sungguh mengejutkan. Hal yang tidak pernah saya bayangkan ternyata terjadi di dunia ini.

Saya langsung tersadar dan mengucapkan "Alhamdulillah" atas segala kasih sayangNya pada diri hamba ini. Saya merasa menjadi seorang mahluk yang sangat bahagia dan beruntung. Bahwa hidup saya selalu diberi kemudahan oleh Allah SWT. Terasa semua waktu yang saya lalui penuh dengan anugrah dan kasih sayangNya.

Saya juga chatting dengan teman alumni yang ternyata walaupun sudah bekeluarga dan sebagai kepala keluarga dia masih berstatus pengangguran. Istrinya yang bekerja untuk membiayai hidup anak-anak mereka. Kalau teman yang sukses dan terkenal pasti sulit untuk diajak bicara chatting, karena biasanya mereka orang-orang yang sibuk.

Kembali lagi saya berucap "Alhamdulillah", saya bersyukur walau pun tinggal di negeri orang, namun masih tetap dapat bekerja sebagai ibu rumah tangga yang menghidangkan makanan untuk keluarga. Saya bersyukur disaat sedang ada waktu dapat menulis dan menjadi sebuah buku. Buku yang akan jadi warisan bagi ketiga anak-anak saya kelak jika saya sudah wafat.

Hidup ini indah dan hati riang jika kita dapat meihat kebawah, menundukkan mata dan menajamkan mata bathin kita. Saya selalu ingat pepatah Betawi yang mengatakan "Kalau melihat jangan ke atas nanti kelilipan." Artinya jika hidup ini ingin bahagia dan tenang selalu lah bersyukur, melihatlah ke bawah , kepada mereka yang berada dalam kesusahan, melihat kepada kemiskinan. Pepatah ini bukan mengajarkan kita untuk hidup nrimo. Bukan mengajarkan untuk menjadi pesimis. Justru pepatah ini mengajarkan kita akan selalu bersyukur. Bukankah sesuai Hadist bahwa Jika kamu bersyukur maka akan Aku tambah (rejeki).

Rejeki memang tidak berpintu, dan datangnya sesuai takdir dan izin Allah SWT. Agar rejeki, kesenangan, ketenagan jiwa, kedamaian datang selalu di lubuk hati, saya selalu mengucapkan zikir di waktu senggang, di waktu dalam kendaraan, di semua waktu yang kosong. Agar waktu itu tidak hampa, tetapi penuh makna dan rasa terima kasih pada Nya.

Megara, 11.38 pm

Selasa, 30 Juni 2009

Batavian Intermezzo

“Mak napa yak telapak tangan kanan Mila gatel melulu?”

“EEhh biarin ajee tuh tangan lu yang udeh kapalan gatel, jangan digaruk Mile! Elu bakalan dapet duit tau!”

Demikian percapakan antara Mpok Uun dengan putrinya yang bernama Jamila berusia 30 tahun - pagi hari itu yang terdengar di telinga saya.



Mpok Uun seorang janda asal daerah Gang Buaya, Jakarta Pusat. Dia menjadi saksi saat kuburan karet bivak digusur dan dibangun menjadi apartemen mewah. Dia mendapat ganti rugi ketika tanahnya dibeli dengan ganti rugi per meter satu juta.



“Aye pan waktu entu kagak bise Neng nolak ganti rugi,” Mpok Uun mulai bercerita sambil meladeni pembeli yang baru datang ke warung nasi ulamnya.

“Emang nape Pok, kok mau aje disuruh pindah dari rumah warisan, lagian kemane-mane dari Gang Buaya kan deket?” Saya bertanya sambil memesan nasi ulam pakai lalap dan sambel pedes.



“Eh Eneng kayak enggak tau ajee yee, zaman ntuh pan katenye anak Presiden yang naksir tanah kite. Mane ade yang berani lawan. Semue pade nurut deh tuh yee. Lagian pan lumayan duit zaman segitu banyak, makanye aye bisa naik haji ndulu.” Sambil senyum Mpok Uun terlihat bahagia kalau dia sudah bergelar haji.

Logat Betawi Karetnya masih kental dengan ciri khas selalu eee di belakang setiap kata. Berbeda dengan Jamila yang dibesarkan di daerah Meruya, logat anak dara itu berbeda dengan emaknya.



“Nih anak aye si Mile, udeh jadi orang Meruya deh die. Dengerin aje kalau die ngomong. Jauuh deh bede ame kite nih yee Betawi dari Pusat,” tuturnya sambil menyodorkan dendeng paru yang saya minta.



“Iih Emak ada-ada aja yak. Emak tuh yang beda ngomongnya sama orang sini. Zaman sekarang ya Mak, kagak ada lagi dah Betawi Pusat sama Betawi Pinggiran. Semua Betawi semua udah pada ke pinggiran, tersingkir Mak.” Jamila bicara sambil mencuci piring kotor bekas para pelanggan yang datang pagi itu makan nasi uduk, nasi ulam dan dendeng Mpok Uun yang terkenal gurih dan lezat.

“Ude deh yee jangan sok tahu deh lu anak kemaren aje. Masing banyak tau orang Betawi noh di Kemayoran, di Cikini, di Nabang, di Kebon Sirih.”



“Yah Mak, dah susah Mak cari orang Betawi asli disana yak. Pendatang Mak, banyak yang ngaku-ngaku orang asli Jakarta , biar dibilang Betawi.”



“Ape buktinye?” Tanya Mpok Uun penasaran lagi.



“Buktinya yak yang jual kerak telor keliling sekarang tuh si Mas dari Wonogiri. Mila pernah nih ajak omong, ngetest Mak. Tanya sama si Abang kang jualan kerak telor, Apaan sih warna gohok Bang? Dia kagak tau dah gohok apaan. Busyet dah!”



“He he he, hhi bisa aje lu yee Mile”



Kedua anak beranak itu tertawa. Saya yang sudah melahap nasi ulam dengan lalapan dan dendeng paru ikut tersenyum mendengar percakapan keduanya. Sambil berdiri, saya tanya berapa harga makanan dan minuman yang harus saya bayar. Setelah membayar, kemudian saya berikan uang kembalian untuk si Mila.



“Nah tuh kan apaan Mak bilang, dapet deh lu duit.” Sambil lalu saya hanya bisa senyum dan berharap akan kembali lagi ke warung itu suatu saat.