Sabtu, 15 Maret 2008

Brain Aware

"There is no reality; only perception " –Hartati Nurwijaya


Pernah menonton sirkus atau atraksi senam yang menampilkan kelenturan tubuh pesenam atau pemain sirkus. Apa yang dapat kita ambil dari kelenturan tubuh adalah sikap kita yang juga harus bisa seperti pegas.

Hukum pegas adalah semakin ditekan dia akan akan semakin melejit. Lihat juga ketika anak-anak bermain lompat-lompatan di kasur pegas, semakin anak kuat menekan pegas maka semakin melenting dia keatas.

Seorang manusia yang bahagia biasanya mempunyai karakter yang lentur, lenting dan tahan bantingan. Tidak masalah berapa banyak dia mengalami hal-hal yang mengecewakan dan gagal. Misalnya wirausahawan yang bangkrut, orang tua bercerai, kemalingan, kehabisan uang, pelajar yang mendapat nilai jelek ataupun seorang kandidat pempimpin yang kalah dalam pemilu. Semua individu pasti pernah mengalami peristiwa yang dianggap buruk atau sial.

Jika saya boleh berpendapat masyarakat Indonesia termasuk golongan yang sangat lenting, sangat kuat daya tahannya terhadap situasi dan kondisi apa pun. Sejak zaman penjajahan Belanda hingga penjajahan Jepang; rakyat disiksa, tanam paksa, menghadapi embargo pendidikan oleh penjajah dan kekejaman perang lainnya

Kemudian era kemerdekaan rakyat masih terus harus berjuang mengisi kemerdekaannya. Zaman orde lama, orde baru, reformasi dan kini kembali ke trend orde baru lagi. Rakyat masih tetap tegar dan bahkan rela berkorban walau nyawa sekalipun tantangannya. Rakyat Indonesia mati bukan karena bunuh diri. Hanya sedikit sekali statistic angka bunuh diri di Indonesia. Tidak seperti yang terjadi di negara maju dan negara lainnya, karena tidak tahan menghadapi ujian hidup mereka bunuh diri. Apalagi kini krisis sudah ekonomi sudah mulai menjalar dari Amerika menjalar ke Eropa dan Asia. Sedangkan Afrika memang sudah krisis sejak dahulu.

Harga minyak sudah mencapai harga $110 per barrel, harga emas sudah $1000 per troyounce (333,34 gram). Harga beras juga melangit, harga kebutuhan pokok hidup lainnya melonjak naik tajam.

Pada umumnya rakyat jelata yang lebih tahan banting, yang paling lentur terhadap situasi krisis. Seharusnya belajar manejemen krisis dari rakyat jelata, para petani dan buruh kasar, pekerja sektor informal.

Masa-masa krisis saat ini merupakan masa ujian bagi kita semua. Jika kita melihat peristiwa yang kita alami sebagai ketidak-beruntungan, maka yang masuk dalam otak dan pikiran kita adalah hal yang negatif. Tidak saya sarankan jika tertimpa musibah langsung menjadi stress. Namun mulailah biasakan mengontrol diri dengan cara bijaksana.

Cara bijkasana jika saya boleh ungkapkan, bersyukurlah setiap hari dengan cara menulis atau menginvetarisir hal-hal apa saja yang membuat hati Anda senang. Sikapilah peristiwa yang dianggap buruk sebagai kejadian yang akan hikmahnya. Hikmah mengandung arti bahwa ada sesuatu yang baik dibalik hal itu. Dalam konsep spiritual biasa disebut sebagai ujian. Ingat dalam kitab suci disebutkan manusia diciptakan untuk diuji.

Otak dan pikiran manusia yang ditimbulkannya setiap saat adalah berisi persepsi, tidak ada hal yang nyata (realitas) di dunia ini. Jika menurut Anda sesuatu hal itu buruk atau pembawa sial, kenyataannya belum tentu benar atau absolut.

Dalam teori sosiologi disebutkan fakta sosial sebagai sui generic, artinya masyarakat, kelompok, individu memandang sesuatu berdasarkan kesepakatan dari sudut pandang mereka. Misalnya; mogok kerja dianggap sikap patriotik di sebagian masyarakat Yunani. Sebaliknya kelompok masyarakat lain menganggap mogok kerja merupakan hal yang merugikan. Seorang pekerja di Yunani mengatakan satu hari mogok kerja maka gaji sebesar 60 euro akan dipotong oleh perusahaan kilang minyak negara tempat dia bekerja. Namun karena solidaritas yang tinggi dalam serikat pekerja di seluruh sektor di Yunani. Maka setiap diadakan hari mogok kerja, maka seluruh pekerja akan turut mogok dan tidak seorang pun yang masuk kerja.

Otak memegang peranan utama aktifitas setiap manusia. Sama halnya dengan DNA maka otak manusia juga tidak ada yang sama strukturnya. Hal ini dijelaskan kembali oleh Professor Fotini seorang guru besar ilmu biologi dari universitas Athena di Yunani. Menurutnya otak manusia harus dirawat dan dijaga baik-baik agar dapat menghasilkan pikiran cerdas dan positif.

Tiga rahasia agar otak kita cerdas adalah:
1. Memakan makanan yang sesuai untuk perkembangan otak. Misalnya, makanan yang banyak mengandung antioxidant ( buah-buahan), omega3 (telur, ikan dll). Hindari lemak yang berlebihan.
2. Olah raga otak. Otak juga butuh olah raga dengan cara mengisi TTS, rekreasi dan tentu saja berbagai jenis olah raga lainnya.
3. Tidur yang cukup.

Professor Fotini menyatakan bahwa sebagian besar manusia beraktifitas di siang hari, sehingga malam hari haruslah digunakan sebagai waktu tidur. Walau pun kita tertidur namun sel-sel otak tetap bekerja. Jika tiga hal tersebut Anda lakukan, maka Anda akan selamat dari penyakit sering lupa. Bukan lupanya para politisi yang ketika pemilu sering berjanji muluk-muluk dan ketika sudah terpilih dia lupa pada janji. Lupanya politisi memang disengaja.

1 komentar:

sikembar mengatakan...

mantab, mohon izin untuk menyalin tulisan-tulisan positif milik Anda untuk saya tempel di blog saya http://budies.wordpress.com

selanjutnya saya sedang mencoba terapi berhenti merokok, tulisan anda sangat memotivasi saya. terima kasih