Selasa, 16 September 2008

Silence Charity

"Segala sesuatu tergantung niat" Hadist


Tadi malam selepas waktu tarawih. Saya mengikuti perkembangan jatuhnya nilai saham di bursa dunia. Walau seumur hidup belum pernah beli saham. Saya mengikuti terus wawancara dengan mantan Direktur Bank Dunia Alan Greenspan. Dia mengatkan akan ada lagi perusahaan besar bangkrut dan tumbang.

Resesi ekonomi, bencana lama terus melanda Amerika. Bahkan seorang kenalan di internet yang suaminya orang Amerika curhat bahwa dia merasa Allah SWT belum jawab doanya. Sebab perusahaan suaminya bangkrut dan dia khawatir akan nasib masa depan kedua anaknya. Saya hanya bisa memberi saran. Doa akan dijabah jika ibadah kita sudah benar. Dan tetap berbaik sangka pada Allah SWT.

Sebagai manusia yang terus digoda Iblis pada setiap hembusan nafas.. Jelas masalah hati dan hawa nafsu berperan besar dalam kehidupan kita. Itulah sebabnya dibeberapa tulisan saya terdahulu pernah saya tulis “semua berawal dari niat, nawaitunya”. Kalau niat mau pamer ya jadilah hasilnya pamer saja. Kalau niatnya ikhlas tentu saja rejeki bertambah.

Jika saya boleh berpendapat, ternyata antara resesi dunia dan tewasnya beberapa korban penerima zakat di Pasuruan. Ada hubungannya. Sebab tadi malam ketika saya sedang mendengar hebohnya ekonomi Amerika, ada tulisan dibawah layar tv. 20 orang Indonesia meninggal dunia disaat diberikan langsung sumbangan. Tadinya saya berpikir sumbangan LAPINDO lagi. Ternyata pagi ini saya buka koran online Indonesia. Beritanya tidak seperti dugaan saya.

Resesi melanda dunia, barang kebutuhan pokok naik. Semua barang mahal. Apalagi jelang lebaran. Para penerima zakat yang antri dimanapun. Pernah saya dengar dari ucapan mereka “Yuk buruan antri nanti enggak kebagian”. Nah rasa takut tidak kebagian ini yang mungkin menyebabkan timbulnya banyak korban di Pasuruan. Disamping memang kesalahan keluarga pemberi zakat yang mengundang mereka datang.


Jika saja para pemberi zakat dan orang yang dermawan bisa mengikuti sunnah Rasullah. Hal yang mudharat bisa diatasi. Sesuai dalil dari Hadist Sahih Bukhari Muslim yaitu;
“Ada 7 orang yang nantinya akan diteduhi Allah pada saat tidak ada lafi tempat berteduh (hari qiyamat)
1. Pemimpin atau Imam yang adil,
2. Pemuda/pemudi yang tumbuh beribadah
3. Orang yang hatinya tergantung di masjid
4. Dua orang yang saling mencintai karena Allah mereka bersama dan berpisah dalam cinta tersebut.
5. Lelaki yang digoda wanita cantik kaya tapi dia jawab aku lebih takut Allah
6. Orang yang tangan kanannya menyedekahkan, tapi tangan kirinya tidak tau
7.Seorang yang berdzikir kepada Allah di tempat yang hening dan sunyi lalu kedua matanya berlinang karena Allah”

Orang yang tangan kanannya memberi tapi tangan kirinya tidak tahu. Sudah sejak zaman kanak-kanak kita semua sering mendengar. Bahkan ujian pun kadang datang untuk mengetest sampai sejauh mana kita bisa mengikuti sunnah Rasullah SAW.

Hal kisah seorang teman bernama Gofo mintan buku untuk disumbangkan. Seorang teman yang bernama Jojo tidak dapat memenuhi permintaan teman tersebut. Sebab dia sudah menyumbangkan buku-buku tanpa gembar-gembor. Namun Gofo merasa Jojo pelit dan dianggap mampu untuk menyumbang. Hingga Gofo menulis di milis perihal Jojo.

Jojo yang sudah biasa dengan kritikan hanya membalas di milis dengan hadist diatas tadi. Ada lagi kisah seorang pengusaha kaya. Beliau bingung dengan semakin maraknya bisnis pengumpul sumbangan dan sedeqah. Hingga para pengumpul sumbangan bisa menjadi kaya sedangkan mereka yang berhak menerima semakin terpuruk.

Juga ada kisah Wan Abud saudagar kulit di Tanah Abang. Yang biasanya tiap tahun memberi zakat. Hingga para fakir miskin antri di depan rumahnya. Namun beberapa tahun belakangan ini sudah tidak nampak antrian lagi. Ada gossip yang menyebutkan Wan Abud bangkrut. Namun sebenarnya Wan Abud tetap memberi zakat langsung kepada para yang berhak. Mungkin dia sudah sadar bahwa memberi sumbangan atau sedeqah tidak perlu pamer dan gembar-gembor. Jika saja Wan Abud masih membuka pengumuman mungkin saja akan banyak korban berjatuhan. Mengingat semakin banyak rakyat yang juga terkena imbas resesi dunia.


Megara, 16 Ramadhan 1429 H

2 komentar:

Dewi Berlian mengatakan...

Memang, segala sesuatu tergantung niat. Kita juga mesti berprasangka baik pada Allah. Jika digabung....LOA!
Hi, salam kenal. Kayaknya kita teman seangkatan lho. Aku lulus masuk di Farmasi UGM '87. Tapi aku milih di STAN'87, ngirit. He he he...Main ke blog ku yuk....
http://mama-ibuindonesia.blogspot.com
Salam, Dewi-Jakarta

hamidin krazan mengatakan...

Antara berinfaq diam-diam dan atau butuh tetapi tidak mau minta zakat.
Dua amalan sulit. Predikat pertama tentu aku bukan masuk dalam kategori itu (bukan yunfiquun serta hamba yang mampu memberi tanpa pamrih) tetapi pada golongan kedua bagikan dua sisi keping uang bagiku. Di satu sisi butuh dana, di sisi lain kita harus berakhlak 'menjaga diri dari minta-minta' sekalipun butuh.
pengalamanku: menjelang lebaran sebagai jurnalis sebuah harian lokal aku meliput kegiatan amaliyah Ramadhan termasuk pembagian zakat baik lembaga zakat yang dikelola pemerintah daerah, organisasi Islam dan lembaga amil zakat yang konon independent. Bahkan beberapa kesempatan meliput pembagian zakat dan sumbangan/ zakat langsung dari pengusaha sukses, pemberian santunan sejumlah pengusaha kepada yatim piatu di panti asuhan. Setiap pulang liputan, atau ketika mengetik berita maupun membaca berita yang kutulis aku kadang tercekat lidahku seraya berdoa: Allhuma ini a'udzubika minal 'azezi walkasali, walgharomi, wa a'udzubika min ghalabati dzaeni wakohliirrijaal. Karena aku punya hutang yang belum terbayarkan. Apakah aku gharim atau karena belum dikarunia rizki finansial yang cukup untuk membayar hutangku. Insya Allah para narasumberku itu tetap tidak tahu persoalanku. Semoga aku bisa melunasi hutangku tampa meminta-minta. Ammin.